LOMBOK UTARA, NTBNEWS.COM – Kawasan wisata Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, kembali dilanda musibah kebakaran setelah api melalap sejumlah bangunan pada Kamis pagi (12/3/2026).
Meski api akhirnya berhasil dipadamkan, peristiwa ini kembali menyoroti tantangan besar penanganan kebakaran di wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana pemadam.
Selain kondisi geografis pulau yang terpisah dari daratan utama, banyaknya bangunan dengan material mudah terbakar juga menjadi faktor risiko tinggi terjadinya kebakaran di kawasan wisata unggulan Nusa Tenggara Barat tersebut.
Sekretaris Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Lombok Utara (KLU), Erwin Rahadi, mengakui bahwa armada pemadam yang saat ini tersedia di kawasan Tiga Gili masih belum memadai untuk menangani kebakaran berskala besar.
“Kondisi sarpras kita di sana memang kurang pas kalau hanya mengandalkan roda tiga. Pak Bupati mengarahkan minimal kita siapkan armada sekelas Granmax untuk mobilitas di tiga Gili, yakni Trawangan, Meno, dan Air,” ujar Erwin Rahadi, Kamis (12/3/2026).
Menurutnya, kendaraan roda tiga yang selama ini disiagakan di kawasan Gili memang cukup membantu untuk penanganan awal.
Namun, kapasitasnya terbatas sehingga tidak optimal jika terjadi kebakaran yang melibatkan banyak bangunan.
Pemkab Lombok Utara Siapkan Penambahan Armada dan Personel
Sebagai langkah antisipasi, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara berencana memperkuat sistem penanganan kebakaran di kawasan wisata tersebut. Selain pembaruan armada pemadam, Pemkab juga akan menambah jumlah personel di pos pemadam kebakaran yang berada di wilayah Tiga Gili.
Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat response time ketika terjadi kebakaran di pulau-pulau tersebut, mengingat akses bantuan dari daratan utama membutuhkan waktu lebih lama.
“Kami juga merencanakan penambahan personel di pos damkar di Tiga Gili agar penanganan kejadian kebakaran bisa lebih cepat,” jelasnya.
Pelaku Usaha Diminta Tingkatkan Standar Keamanan Bangunan
Selain memperkuat sarana pemadam, Dinas Damkar KLU juga meminta para pelaku usaha pariwisata di kawasan Gili untuk meningkatkan kesadaran terhadap standar keamanan bangunan.
Hal ini penting karena banyak penginapan, restoran, dan fasilitas wisata di kawasan tersebut menggunakan material alami seperti kayu dan atap ilalang yang memang estetis untuk konsep wisata tropis, tetapi memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran.
Dinas Damkar menekankan beberapa langkah mitigasi yang harus dilakukan pemilik usaha, antara lain melakukan pengecekan instalasi listrik secara berkala, menyediakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di setiap bangunan, serta menyiapkan mesin penyemprot air portabel sebagai langkah penanganan awal jika terjadi kebakaran.
“Harapan kita, pelaku usaha lebih memahami standar keamanan. Jangan sampai kejadian ini terus berulang tanpa ada mitigasi yang kuat dari sisi pemilik bangunan,” tutur Erwin.
Insiden kebakaran di kawasan Gili Trawangan sendiri bukan yang pertama terjadi. Dengan meningkatnya aktivitas pariwisata di wilayah tersebut, penguatan sistem mitigasi kebakaran dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk melindungi wisatawan, pelaku usaha, serta aset pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Lombok Utara.(***)











