Rektor Paramadina Firmanzah Tutup Usia, Indonesia Kehilangan Intelektual Muda dengan Segudang Prestasi

Rektor Paramadina Firmanzah Tutup Usia, Indonesia Kehilangan Intelektual Muda dengan Segudang Prestasi

fc5969c4-da31-4d95-a0b7-014752da59ef
Sabtu, 6 Februari 2021 20:02 WIB
Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah. (Barisan.co)

Jakarta, Ntbnews.com – Kabar duka datang dari dunia pendidikan Indonesia. Pagi ini, Sabtu (6/2/2021), Rektor Universitas Paramadina, Firmanzah meninggal dunia.

Semasa hidupnya, sosok yang akrab disapa Prof. Fiz ini sudah mencetak sejumlah prestasi, khususnya di dalam karier akademis dan profesionalnya. Jabatan terakhir yang diemban Prof. Fiz sebelum meninggal adalah sebagai Rektor Universitas Paramadina.

Dia diangkat sebagai rektor setelah menggantikan Anies Rasyid Baswedan. Ketika itu di tahun 2014, Anies diangkat oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) di Kabinet Indonesia Kerja, sehingga mengharuskannya meninggalkan jabatan Rektor Universitas Paramadina.

Ketua Umum Yayasan Wakaf Paramadina, Didik J. Rachbini menyebut sosok kelahiran Surabaya, 7 Juli 1976 ini sebagai akademisi muda yang memliki energi baru, cara pandang terbuka, dan visi misi yang dapat memajukan Universitas Paramadina.

“Menjunjung keragaman dan dapat berinteraksi dengan berbagai kalangan dengan latar belakang dan kepercayaan yang berbeda,” tambah Didik soal Prof. Fiz.

Diketahui, Firmanzah merupakan salah satu profesor termuda di kampus kuning. Meski terbilang muda, pria ini sudah mendulang banyak pujian dari kalangan intelektual atas prestasinya.

Ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI) sejak 2009, sekaligus menobatkan dirinya sebagai dekan termuda dalam sejarah UI.

Saat lulus SMA, ia kuliah di FE UI dan lulus dalam waktu 3,5 tahun. Dia sempat menjajal dunia asuransi sebagai analis pasar, sebelum memutuskan kembali ke bangku kuliah, setahun kemudian.

Pria yang akrab dipanggil Fiz itu mengambil program S-2 di bidang yang sama dan menyelesaikannya dalam tempo dua tahun.

Ia melanjutkan studi di Universitas Lille di Prancis. Ini merupakan momen titik balik Fiz mengenal dunia yang lebih luas. Dia mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari universitas itu.

Fiz juga menjalani studinya pada tingkat doktoral dalam bidang manajemen internasional dan strategis di Universitas Pau and Pays De l’Adour, dan selesai tahun 2005.

Karena lulus tercepat di angkatannya, Fiz lantas mendapatkan tawaran beasiswa program doktoral dalam bidang manajemen strategis internasional dari University of Pau et Pays de l’Adour dan meraih PhD pada 2005.

Ia sempat mengajar setahun di almamaternya, sebelum dipanggil pulang oleh dekan FE UI yang saat itu dijabat oleh Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro.

Tiga tahun berikutnya, ketika berusia 32 tahun, Fiz terpilih sebagai Dekan ke-14 FE UI periode 2009-2013 yang tercatat sebagai dekan termuda dalam sejarah UI. Ia berhasil unggul atas 7 kandidat yang lain: Adi Zakaria, Nining Soesilo, Akhmadd Syahroza, Chaerul Djakman, Syaifol Choeryant, Arindra A, dan Sidharta Utama.

Atas kiprahnya di dunia akademis, khususnya bidang manajemen, sosok Fiz dikukuhkan menjadi seorang guru besar tetap di Bidang Ilmu Manajemen Strategik di Balai Sidang UI, 18 Agustus 2010.

Pria yang mendapat gelar PhD di bidang Strategic and International Management dari University of Pau et Pays de l’Adour Perancis di tahun 2005 ini diberi kepercayaan untuk menjadi salah satu staf khusus (stafsus) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di bidang ekonomi sejak 2012-2015.

Fiz ditunjuk karena pada saat itu Presiden SBY belum memiliki stafsus di bidang ekonomi, sementara untuk menjalankan tugasnya, SBY membutuhkan masukan-masukan dari orang yang memang ahli di bidang itu. Ketika diberi kepercayaan menjadi seorang stafsus presiden, anak ke-8 dari 9 bersaudara ini mengaku begitu terhormat.

“Ini sebuah dunia baru, selama ini besar di kampus, sekarang mendampingi presiden memberikan masukan dan data perekenomomian dalam dan luar negeri,” kata dia ketika itu.

Sesaat setelah menerima tawaran SBY, Fiz memutuskan untuk meninggalkan posisinya sebagai Dekan FE UI, karena khawatir tidak bisa membagi fokusnya dengan maksimal.

Berdasarkan biodata yang diberikan pihak Universitas Paramadina, sosok Fiz tercatat menjadi staf pengajar aktif di tiga universitas: Universitas Paramadina (sejak 2015), Universitas Indonesia (sejak 2005), dan di Universutas Pertahanan (sejak 2016).

Selain itu, ia juga pernah beberapa kali menjadi visitting professor di sejumlah perguruan tinggi luar negeri, seperti Perancis, China, dan Amerika Serikat (AS).

Sementara di dunia profesional, selain sebagai stafsus bidang ekonomi untuk Presiden SBY, Fiz juga sempat menjadi Komisaris PT Perusahaan Gas Negara (2012-2015), anggota Dewan Penasihat Menteri Perikanan dan Kelautan RI (2012-2013), anggota Komite Manajemen Risiko PT CIMB Niaga Tbk (2016-sekarang), anggota Dewan Penasihat Kadin (2016-sekarang), dan lain-lain.

Selama kariernya, Fiz sudah menulis tujuh buku, puluhan publikasi ilmiah, dan mendapat penghargaan Bintang Jasa Utama dari Presiden RI (2014). (km/ln)

banner-single

Komentar

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments