Menenun “Kain Kematian”

Menenun “Kain Kematian”

Kamis, 5 Agustus 2021 15:08 WIB
Kamusiah saat mengurai benang (moro) menggunakan janta dan langgiri (Ikbal Hidayat/Ntb News).

Kota Bima, Ntbnews.com – Sudah menjadi rahasia umum bahwa Kelurahan Nungga, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima, sebagai salah satu sentra produksi kain tenun tradisional (tembe nggoli).

Umumnya, wanita Nungga berprofesi sebagai penenun. Di sana, kain tenun yang dihasilkan adalah motif kotak-kotak (muna bali). Terdapat ratusan penenun yang menghasilkan kain tenun yang dirasa bisa menyesuaikan kondisi cuaca. Yakni hangat di saat cuaca dingin. Sebaliknya, dingin di saat cuaca panas.

Namun lain halnya dengan Ina Kamusiah. Semula, ia merupakan penenun kain sarung. Namun sudah satu tahun belakangan ini ia beralih menjadi penenun kain kafan. Lantaran diminta oleh masyarakat setempat untuk menjadi penenun “kain kematian” tersebut.

Proses pembuatan kain kafan sama dengan proses pembuatan kain sarung. Hanya saja, benang katun terlebih dahulu dimasak dengan menambahkan sedikit beras. Tujuannya agar kain yang dihasilkan bisa bertahan lama sebelum digunakan. Proses ini disebut nggoha.

Selanjutnya, benang yang sudah dimasak kemudian ditiriskan dan dijemur. Usai dijemur, masuk pada proses penguraian benang atau moro. Pada proses ini, benang digulung dengan menggunakan bambu-bambu kecil sebagai media. Kemudian benang yang digulung tersebut dibentangkan kembali. Proses ini disebut ngane.

Butuh waktu berjam-jam untuk proses ini. Belum lagi jika terjadi hujan. Proses ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Tahapan akhir sebelum tenun, yaitu luru. Di mana benang yang telah dibentangkan tersebut digulung kembali ke kayu pada alat tenun yang dinamai tampe. Barulah tahapan penenunan dimulai.

Kamusiah membutuhkan waktu 13 sampai 15 hari untuk menenun benang seberat 1 kg tersebut. Dari benang tersebur dapat dihasilkan 20 meter lebih kain kafan dengan lebar 60 cm. Kamusiah menjualnya dengan harga 100.000 per 4 meter.

“Masyarakat di sini mewajibkan penggunaan kain kafan hasil tenunan pada setiap jenazah. Kami menyebutnya weri. Meski untuk lapisan pertama dan kedua. Selanjutnya bisa ditambahkan kain kafan dari toko untuk lapisan selanjutnya,” ungkap Kamusiah belum lama ini.

Wanita usia senja yang bahkan sudah tidak mengingat umurnya tersebut sudah mempersiapkan kain kafan untuk dirinya sendiri.

“Kain kafan ini sudah saya siapkan untuk diri saya sendiri. Kalau tidak disiapkan dari sekarang, harus dapat dari mana?” tanya Kamusiah sambil tersenyum.

Sifat zuhudnya atau mendahulukan urusan akhirat dari pada urusan dunia tercermin kala mendengar suara azan dari masjid yang tidak jauh dari rumahnya. Dia langsung meninggalkan pekerjaannya bergegas untuk berwudhu.

“Salah satu syarat salat yaitu tepat waktu. Selain itu, salah satu waktu yang mustajab untuk berdoa adalah antar azan dan ikamah,” ucapnya sambil tersenyum. (*)

Penulis: Ikbal Hidayat