Ideologi dan Dinamika Gerakan IMM dalam Pandangan Miftahul Khair

Ideologi dan Dinamika Gerakan IMM dalam Pandangan Miftahul Khair

Rabu, 25 Agustus 2021 16:08 WIB
Miftahul Khair

KETUA Umum Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Nusa Tenggara Barat (NTB), Miftahul Khair, menulis buku yang berjudul Ideologi dan Dinamika Gerakan IMM sebagai Pelopor Peradaban.

Dalam buku setebal 170 halaman tersebut, Khair menjelaskan secara panjang lebar tentang ideologi dan dinamika gerakan IMM. Selain itu, ia mengetengahkan dan membandingkan spirit kepemimpinan IMM dan organisasi-organisasi mahasiswa di Indonesia.

Dengan begitu, kata dia, para pemimpin IMM ke depan dapat menemukan pola yang berwarna saat memimpin organisasi tersebut.

Selain itu, dalam bukunya, Khair lebih banyak mengungkapkan pengalaman para tokoh dalam memimpin IMM.

“Sehingga seorang pemimpin itu bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa pola kaderisasi itu, biar ada dinamisasinya, perlu ada penyesuaian dalam memahami keadaan-keadaan dengan metode yang memang sudah ada dalam kultur kaderisasi IMM,” jelas Khair kepada ntbnews.com pada Rabu (25/8/2021) sore.

Di samping itu, pria kelahiran Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima tersebut menguraikan dan mengetengahkan sejumlah figur inspiratif dalam membangun organisasi. Salah satunya, pelopor pendirian IMM: Djazman Al Kindi.

Ia menyebutkan, Djazman melahirkan IMM dalam kondisi bangsa sedang carut-marut. Khair pun menguraikan latar belakang, tujuan, hingga semangat tokoh tersebut dalam mendirikan IMM.

“Itu yang kita pertegas ke publik dan adik-adik kita di IMM, supaya mereka semangatnya tidak kendor dalam artian terus semangat menemukan pola-pola dalam memimpin IMM,” jelasnya.

Dengan menampilkan tokoh tersebut, Khair ingin IMM tetap hadir dalam mewarnai gerakan bersama organisasi-organisasi lain di Indonesia, membantu pemerintah, serta berkolaborasi dengan berbagai instansi dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kepentingan banyak orang.

Pemuda yang kini tengah menyelesaikan studi magister di Mataram ini juga menampilkan tokoh perempuan yang tak lain istri pendiri IMM: Elyda Djazman.

Khair mengungkapkan, di IMM terdapat organisasi perempuan yang diberi nama Immawati. Semangat Elyda dalam mendampingi Djazman dapat ditularkan kembali kepada generasi perempuan IMM sehingga mereka bisa terus merawat perjuangan dalam membangun organisasi.

Dia juga menampilkan tokoh pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, dan istrinya selaku pendiri Aisyiyah, Nyai Siti Walidah. Semangat para tokoh ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi kader-kader perempuan IMM agar tak terpengaruh perubahan zaman. “Perempuan juga harus tetap berjuang,” tegasnya.

Dalam Ideologi dan Dinamika Gerakan IMM sebagai Pelopor Peradaban, Khair juga menjelaskan prinsip-prinsip kepemimpinan. Salah satunya, pemimpin harus memimpin organisasi dengan kepala dingin. Pemimpin IMM juga harus terus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan.

Laki-laki kelahiran tahun 1993 ini juga menguraikan dasar-dasar kepemimpinan yang tergabung dalam Penegasan IMM. Pertama, IMM adalah organisasi Islam. Dalam merawat kader, pemimpin harus berpegang teguh pada tuntunan Alquran dan Sunah sehingga gerakan IMM tak keluar dari dua sumber hukum Islam tersebut. Dengan begitu, kader-kader IMM tetap kukuh dalam memperjuangkan organisasi.

Kedua, IMM tak bisa dipisahkan dengan Muhammadiyah. Pasalnya, IMM adalah organisasi otonom Muhammadiyah. Sebagai ibunya, IMM harus sejalan dengan organisasi Islam di Indonesia tersebut.

“Bahkan salah satu tujuan dilahirkannya IMM ini kan untuk meneruskan dan melanjutkan cita-cita dan tujuan Muhammadiyah. Itu termaktub dalam tujuan IMM,” jelasnya.

Ketiga, sebagai organisasi mahasiswa, ilmu harus terus dicari dan diamalkan. Ilmu yang didapatkan kader-kader IMM mesti bersifat ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.

Keempat, IMM adalah organisasi yang sah serta mematuhi segala peraturan perundang-undangan di Indonesia atau di negara mana pun IMM berada.

“Jadi, dia tetap taat dan tunduk terhadap Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Itu hal yang tidak perlu lagi diperdebatkan,” ucapnya.

Kelima, apa pun yang dilakukan dan diperjuangkan kader-kader IMM harus bermuara pada kepentingan masyarakat.

Di samping itu, pemimpin IMM harus memiliki tiga kompetensi: intelektualitas, religiutas, dan humanitas. Tiga hal ini bisa menjadi pembeda dan pewarna dalam gerakan IMM.

“Kita jabarkan semua tentang poin-poin itu sampai pada aplikasinya bagaimana menjadi intelektual sejati,” jelas Khair.

Dalam buku tersebut, dia menyimpulkan, ke depan harus ada regenerasi kepemimpinan yang terus ditumbuhkan oleh pemimpin IMM. Apalagi zaman dan dinamika sosial terus berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, perlu ada pola-pola baru bagi pemimpin IMM dalam menjalankan roda organisasi.

Kata Khair, pemimpin IMM ke depan seyogyanya pandai membaca zaman, sehingga dapat melahirkan zamannya sendiri. Dalam istilah Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, pemimpin IMM diharapkan dapat menjadi pembaru.

“Kata pembaru di Muhammadiyah ini sangat familiar. Maka harapannya, pemimpin-pemimpin muda ke depan bisa melakukan pembaruan gerakan sehingga organisasi ini bisa terus hidup dan bermanfaat lebih banyak untuk masyarakat luas,” pungkas Khair. (*)

Penulis: Ufqil Mubin