Fokus

Fokus

Kamis, 2 September 2021 10:09 WIB

KEMARIN sore, seorang teman mempertemukan saya dengan dua orang pengusaha tambang yang tengah mempersiapkan penambangan emas di Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Satunya, seorang direktur yang sudah lama malang melintang di dunia bisnis. Sementara satu lagi seorang anggota kepolisian yang memilih untuk meninggalkan profesinya demi melakoni bisnis di tambang emas.

Tambang emas itu kabarnya mulai beroperasi akhir tahun ini. Sebuah tambang emas terbesar keenam di dunia, yang “memakan” areal seluas ribuan hektare. Memang, beragam informasi menyebutkan, Pulau Sumbawa, khususnya Bima dan Dompu, adalah rumah bagi tambang emas terbesar di Indonesia.

Di Dompu, masyarakat tergolong terbuka dengan investasi di bidang pertambangan, meski kenyataannya juga tetap muncul pro dan kontra, namun lolosnya izin pertambangan di Kecamatan Hu’u menandakan sebagian besar masyarakat menerima tambang beroperasi di wilayah mereka.

Hal itu berbeda jauh dengan masyarakat Kabupaten Bima, yang sejak pemerintahan Ferry Zulkarnain begitu teguh menolak tambang beroperasi di wilayah mereka, walau akhirnya harus dibayar dengan nyawa. Karena itu, para investor akan berpikir ulang untuk berinvestasi di bidang pertambangan di Kabupaten Bima.

Yang menarik, sang direktur yang berasal dari Kabupaten Bima bicara panjang lebar di hadapan kami tentang profesi pengusaha. Katanya, di Bima terlalu banyak generasi yang konsen di bidang politik, tetapi sangat minim yang mau bergelut di dunia usaha.

Banyak generasi Bima yang lebih senang bertani, menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), atau profesi lainnya yang dianggap “zona indah” bagi kebanyakan generasi Bima. “Kita harus keluar dari zona nyaman,” katanya.

Ia kemudian berkisah tentang peluang besar yang dapat “ditangkap” oleh para pemuda setelah tambang emas tersebut beroperasi. Dia mengaku kecewa karena tak banyak orang dari suku Bima yang menangkap peluang itu. Padahal, ada begitu banyak sub-sub bisnis yang dapat berjalan saat tambang emas itu beroperasi.

“Itu yang saya sesalkan,” katanya dengan nada rendah dan mimik wajah sedih. Dia lalu mengaku sebagai satu-satunya pimpinan perusahaan yang akhirnya dapat merekrut ratusan orang yang berasal dari Bima untuk bekerja di perusahaan tambang yang dipimpinnya.

Dia juga bercerita tentang kebiasaan pengusaha Bima yang acap “ikut-ikutan” dalam memilih bidang usaha yang digeluti. Jika satu orang berusaha di sektor pertanian, bila dilihat menjanjikan dan mendatangkan keuntungan, maka mereka akan berbondong-bondong berwirausaha di bidang tersebut. “Jarang yang bisa melihat peluang. Maunya ikut-ikutan,” ucapnya.

Kepada saya, dia menantang saya untuk melihat secara langsung wilayah pertambangan emas di Kecamatan Hu’u. Ia menyebutkan, bila saya mau berusaha, ada banyak peluang yang akan terbuka di sektor tersebut. Tetapi saya buru-buru menjawab, “Profesi dan passion saya sejak dulu hanya di media massa.”

“Tidak masalah. Datang saja ke sana. Lihat langsung. Kalau saya cerita dari jarak jauh begini, Anda tidak akan melihat apa yang bisa dikerjakan,” jawabnya.

“Kalau saya ke sana secara langsung, insting wartawan saya akan berkata lain,” ucap saya tanpa menjelaskan lebih detail “berkata lain” dalam ujung kalimat tersebut. Maksud saya, setelah sampai di Kecamatan Hu’u, bukannya kemitraan bisnis yang akan saya gali, melainkan problem-problem yang melingkupi setelah tambang tersebut beroperasi, atau penolakan sebagian masyarakat atas tambang emas di Kecamatan Hu’u.

Saya kemudian mengingat-ingat ini hingga pulang dari pertemuan tersebut. Yang menarik, ia tak mengajak saya untuk masuk dalam bisnis baru di bidang pertambangan, tetapi menangkap peluang usaha kemitraan di sektor media. Di titik ini, saya terkesan dengan laki-laki yang berambut putih itu. Ia bisa melihat celah kecil. Itulah yang saya yakini sejak dulu kelebihan utama seorang pengusaha: melihat peluang dari celah yang tak banyak dilihat orang lain.

“Fokus aja di media jika itu bisa membuat Anda punya kehidupan yang lebih baik,” sarannya. Kata “fokus” membuat saya tersentak. Sebuah kata yang sudah lama saya pelajari di bidang bisnis, hatta sejak kuliah manajemen bisnis di salah satu kampus di Kalimantan Timur dulu.

Kata ini juga berpendar dalam pikiran saya kala dua pekan lalu saya pulang ke Bima. Abu mengingatkan saya tentang satu hal: fokus dalam satu profesi. “Kami yang sudah memilih sebagai petani, ya sejak dulu jadi petani. Di situ kita bisa hidup. Profesi apa pun bisa menghidupkan kita asal mau fokus,” nasehat Abu satu waktu kala saya bercerita tentang profesi yang tengah saya geluti. (*)

Penulis: Ufqil Mubin