Burhan, Guru SLB Pertama di Kabupaten Bima dengan Dedikasi Tinggi

Burhan, Guru SLB Pertama di Kabupaten Bima dengan Dedikasi Tinggi

Kamis, 15 Juli 2021 10:07 WIB

Bima, ntbnews.com – Burhan atau yang karib disapa Guru Bero mengabdikan diri menjadi pengajar dan pendidik selama 27 tahun di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bertempat di Desa Cenggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat.

Ia merupakan alumni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Makassar. Laki-laki yang pernah mengambil Jurusan Pendidikan Luar Biasa ini menaruh perhatian yang sangat tinggi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

Atas dasar keprihatinannya terhadap anak yang berkebutuhan khusus di Kabupaten Bima, yang menurut pandangannya kurang mendapat perhatian serius dari sekolah umum maupun pemerintah, bersama dengan teman-temannya ia mendirikan SLB pertama di Kabupaten Bima pada 1994.

Saat itu, sebelum Kabupaten Bima dan Kota Bima dipisah menjadi dua daerah yang terpisah seperti sekarang, belum ada satu pun SLB di wilayah pinggiran Bima.

“Satu-satunya SLB cuman adanya di Kota Bima. Akhirnya pada tahun 1994 saya bersama dengan teman-teman memberanikan diri untuk mendirikan SLB pertama di Kabupaten Bima,” ungkapnya baru-baru ini.

Atas kerja keras dan dedikasinya, Bero diamanahkan sebagai kepala SLB pertama yang didirikan di Desa Cenggu tersebut. Ia kemudian secara berturut-turut memimpin sekolah tersebut selama dua periode: dari 1994 hingga 2010.

Selama menjadi tenaga pendidik di SLB tersebut, ia mengaku menghadapi banyak tantangan. Pasalnya, anak-anak yang berkebutuhan khusus dengan jenis yang beragam memerlukan penanganan berbeda-beda.

“Pada saat ini di sekolah umum saja kesulitannya luar biasa, apalagi di sekolah yang berkebutuhan khusus dengan kondisi kita saat ini belajar daring,” jelasnya.

Bero mengungkapkan, ada lima jenis anak-anak yang dididik di SLB: tunanetra, tunarungu, tunawicara, tunagrahita, dan tunadaksa.

Penanganan setiap anak berkebutuhan khusus memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Namun ada dua jurusan yang memiliki tingkat kesulitan yang relatif tinggi, yaitu tunarungu dan tunanetra.

Meski demikian, selama 27 tahun berdiri, SLB yang pernah dipimpin Bero itu sudah banyak melahirkan alumni. Mereka telah dibekali dengan keahlian khusus selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

“Sudah banyak alumni yang telah diluluskan dalam SLB tersebut. Ada yang sudah menjadi sarjana, dan alhamdulillah bahkan ada yang sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS),” katanya.

Berbekal semangat yang tinggi dan niat yang tulus untuk mengabdikan diri pada bangsa dan negara, laki-laki yang sekarang berstatus sebagai PNS tersebut mampu bertahan menjadi pendidik selama puluhan tahun.

“Yang utama adalah semangat dan niat kita untuk membangun generasi-generasi muda untuk menuju perbaikan,” tutupnya. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ufqil Mubin