Opini  

Yang Tersisa dari Istana Bima

Kota Bima – Tanggal 31 Januari 2023, saya berkunjung ke Istana Kesultanan Mbojo yang terletak di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Istana itu dibangun pada era Sultan Muhammad Salahudin dengan arsitektur perpaduan Bima-Belanda selama lebih kurang tiga tahun, 1927-1930. 

Konon arsiteknya adalah warga kelahiran Kota Ambon bernama Obzicter Rahatta. Adapun proses pembangunannya dilakukan secara gotong-royong oleh masyarakat dengan pembiayaan dari anggaran belanja kesultanan.

Jika googling, tak banyak ditemukan referensi tulisan mengenai Istana Mbojo, selain dari website Dinas Pariwisata Kota Bima. Itupun ditulis dengan sederhana dan typo di sana-sini. 

Kini dijadikan museum yang dikelola oleh Pemerintah Kota Bima. Untuk sebuah bangunan di Kota Bima, Istana Mbojo masih terlihat megah meskipun usianya menjelang 100 tahun. 

Bayangkan betapa megahnya bangunan tersebut pada era tahun 1930-an. Istana Bima berubah status menjadi museum pada tahun 1989, pada bulan Maret 2008 menjadi UPTD Museum Asi Mbojo.

Saya datang ke Istana diantar oleh adik-adik HMI Cabang Bima. Sebenarnya pada tahun 2010 saya juga pernah berkunjung ke Istana ini saat waktu sebagai Ketua Umum PB HMI melantik pengurus HMI Cabang Bima. 

Memang menjadi kebiasaanku waktu itu, saat ke daerah untuk melantik kepengurusan HMI, selesai acara saya minta diantar mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota tersebut. 

Yang lucu, waktu itu, beberapa kader yang mengantar saya masuk ke dalam istana bahkan baru pertama kali menginjakkan kaki ke dalam ruangan-ruangan istana yang kini sudah menjadi museum tersebut.

Padahal mereka adalah orang lokal yang tentunya rumahnya tidak terlalu jauh dengan lokasi istana. “Ah,..tapi memang edukasi sejarah lokal kepada anak-anak didik kita masih kurang,” fikirku waktu itu.

Saya banyak belajar selama berada di ruang-ruang display artefak sejarah kota Bima. Di Istana saya disambut dengan baik oleh pemandu museum bernama Astuti.  Beliau ramah dan mampu menjelaskan detail isi istana dengan bagus. Diantaranya saya memasuki ruangan koleksi benda-benda kerajaan seperti mahkota, payung kebesaran, senjata, alat musik, dan sebagianya. 

Kebanyakan benda-benda tersebut bersalutkan emas sebagai simbol dari kemewahan kerajaan. Sayangnya saya tak bisa melihat secara langsung mahkota raja yang katanya terbuat dari emas dan intan berlian. Saya hanya bisa melihat petinya saja, yang saya sendiri tak tahu apakah benda tersebut berada di dalamnya atau tidak.

***

*) Oleh: Muhammad Chozin Amirullah, Ketua Umum PB HMI (MPO) periode 2009-2011.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi ntbnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *