Pandemi, Wajah Pendidikan, dan Komitmen Belajar Mandiri

Pandemi, Wajah Pendidikan, dan Komitmen Belajar Mandiri

Kamis, 22 Juli 2021 10:07 WIB

Oleh: Arif Sofyandi*

Pandemi Covid-19 memberikan gambaran baru bagi wajah pendidikan di Indonesia. Sebelumnya proses perkuliahan dan pembalajaran dilaksanakan dengan metode luring, tetapi sekarang semuanya serba daring. Wajah baru dunia pendidikan ini harus dimaknai dengan cara yang baik dan bijaksana, sebab setiap kejadian, pasti ada hikmah yang tersembunyi di baliknya.

Pendidikan di era pandemi tidak boleh berhenti, walaupun berbagai tantangan datang silih berganti, namun cara belajar harus terus disertai inovasi. Selain belajar daring, setiap mahasiswa atau siswa harus dapat meningkatkan semangat dan motivasi belajar dengan cara mereka sendiri, tidak boleh ada yang terhenti, meskipun terkadang sekolah ditutup, mereka harus terus belajar di rumah, karena peradaban di masa depan bergantung dari mereka, generasi hari ini.

Mengutip pendapat Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendikbud, Nizam, pada suatu acara Medan International Conference on Energy and Sustainability, menjelaskan, “Saat ini pandemi menjadi tantangan dalam mengembangkan kreativitas terhadap penggunaan teknologi, bukan hanya transmisi pengetahuan, tapi juga bagaimana memastikan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik.”

Dengan demikian, untuk memastikan transmisi pengetahuan dan pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik, mahasiswa dan dosen atau siswa dan guru harus memiliki tanggung jawab masing-masing dalam mewujudkan inovasi tersebut. Jika guru atau dosen mencarikan materi dan bahan-bahan untuk pembelajaran, maka mahasiswa dan siswa juga dapat mencari materi-materi pembelajaran yang berkaitan.

Tentu, tantangan ini tidak mudah. Namun harus ada komunikasi dan komitmen bersama demi menjaga dan menghasilkan generasi yang unggul di masa depan, walaupun di tengah kesulitan pandemi yang melanda.

Solusi terbaik yang dapat ditawarkan adalah komitmen berlajar sendiri atau biasa disebut dengan commitment to self-study. Hal ini bisa dilakukan oleh semua orang, baik siswa, mahasiswa atau orang-orang pada umumnya. Contoh mereka yang melakukan metode commitment to self-study seperti ini sangat banyak sekali, sebagaimana yang diperlihatkan dengan sangat indah oleh Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Hambali, Imam Hanafi, dan banyak lagi lainnya. Mereka pun menjadi generasi terbaik pada masanya. Meski buka di tengah problem pandemi, tetapi metode pembelajaran seperti mereka dapat kita wujudkan pada setiap diri kita sendiri.

Selain itu, para orang tua tidak boleh membiarkan anak-anak merek berkeliaran. Orang tua harus terus membimbing dan mendidik anak-anak mereka di rumah sebagai tanggung jawab moral, etik, dan genetiknya.

Orang tua perlu membuatkan jadwal dan kurikulum pembelajaran untuk anak-anak mereka. Tak semata membiarkan mereka main gawai dan tak memperhatikan jam belajar anak-anak. Karena itu, setiap orang tua harus terus mengawal dan mengontrol anak-anaknya. Itulah bukti cinta.

Apalagi ada kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan berbagai istilah lainnya baru-baru ini. Kita pun tak mengetahui sampai kapan kita akan mengahadapi tantangan seperti ini. Namun yang pasti, yang harus kita lakukan adalah terus belajar dan memiliki commitment to self-study, agar generasi emas Indonesia ke depan tetap terjaga.

Dan harus diketahui bahwa ketika kita terus belajar dengan cara commitment to self-study, tentu merupakan sesuatu hal yang istimewa, karena selain kita menghidupkan warisan nabi, kita juga dijanjikan kemuliaan karena merawat tradisi iman dan ilmu.

Alquran surat Al-Mujadillah aya 11menjelaskan, “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.”

Ayat ini merupakan garansi bagi dunia pendidikan di tengah pandemi, karena dalam ayat tersebut Allah SWT menjanjikan derajat kemuliaan bagi orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu.

Saya ingin lebih konsen kepada substansi “yang diberi ilmu” sebagaimana yang saya sebutkan di atas. Dalam menghadapi situasi pandemi sekarang ini, untuk mencapai derajat kemulian tersebut, kita tidak boleh semakin malas dan membiarkan waktu berputar tanpa makna.

Semakin ada problem seperti ini, kita harus lebih giat dan meningkatkan commitment to self-study agar masing-masing kita dapat meraih derajat kemuliaan, sehingga secara otomatis, jika komitmen ini dapat diterapkan dengan baik oleh setiap mahasiswa dan siswa, maka dapat dipastikan output dari pendidikan kita di tengah pandemi akan tetap baik dan semakin terjaga. Semoga Allah memudahkan ikhtiar kita. (*Jurnalis Ntbnews.com/Praktisi Pendidikan di Kabupaten Bima)