Ustaz Adi Hidayat: Islam Tak Tolak Karya Seni, Tapi Klasifikasi Produk Seninya

Foto: Ustaz Adi Hidayat saat memberikan materi di acara Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ)

JAKARTA,NTBNEWS.COM- Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ustaz Adi Hidayat menegaskan bahwa Islam tidak menolak karya seni, tapi mengklasifikasikan produk seninya. Demikian hal itu disampaikannya dalam acara Pengajian Ramadan 1445 H di UMJ, Selasa (19/3).

Walaupun tidak anti seni, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan Islam memiliki rambu-rambu yang diperbolehkan meliputi pengkarya memiliki keimanan, pembuktian iman itu dengan karya seni yang mengandung amal salih.

Dia menambahkan, rambu selanjutnya adalah sebuah karya seni yang membawa penikmatnya selalu ingat dengan Allah SWT, produk seni digunakan sebagai wasilah untuk menyampaikan risalah Islam dan membela kemuliaan Islam.

Jika ke semua rambu tersebut, ungkap Ustaz Adi Hidayat, maka dapat dijadikan pemberat timbangan pemberat amal salih bagi pengkaryanya. Rambu-rambu itu termaktub dalam Alquran surat Asy Syu’ara ayat 227.

“Ayat ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa Islam itu tidak anti dengan seni. Islam tidak anti dengan seni, karena seni itu produk budaya dan budaya itu sesuatu yang melekat pada karakter manusia,” jelas Ustaz Adi Hidayat.

Terkait dengan budaya, Ustaz Adi Hidayat mengatakan tugas Islam adalah merespon ketika sebuah karakter membentuk budaya dan marak terjadi di lingkungan masyarakat. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Asy Syu’ara ayat 227, seni tidak dilarang tapi produknya yang diklasifikasikan.

“Musik di zaman itu ada, dan notasinya tidak ditolak, tapi yang ditolak adalah produk apa yang hasilkan dari notasi ini apakah positif atau negatif,” ungkapnya.

Ustaz Adi Hidayat menyebutkan, karya seni musik yang negatif tidak kemudian ditolak sepenuhnya, melainkan diperbaiki dan diarahkan ke arah yang lebih positif.

Maka dari itu, ia mengatakan hal yang menjadi tantangan Muhammadiyah adalah bagaimana meletakkan dakwah kultural dalam konteks tersebut. (*mk)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *