Menhan Inggris: Pamor AS sebagai Negara Adidaya sudah Runtuh

Menhan Inggris: Pamor AS sebagai Negara Adidaya sudah Runtuh

Jumat, 3 September 2021 22:09 WIB
Ben Wallace

London, ntbnews.com – Menteri Pertahanan (Menhan) Inggris, Ben Wallace, menyinggung penarikan pasukan AS dan NATO yang memalukan dan tergesa-gesa dari Afghanistan. Ia mengatakan, negara adidaya yang gagal mencapai tujuannya secara internasional bukanlah kekuatan dunia, tetapi kekuatan besar saja.

Meskipun Wallace tidak menyebut nama AS secara langsung, tetapi mengingat meningkatnya ketegangan antara kedua belah pihak karena meninggalkan Afghanistan, jelas bahwa yang dimaksudnya adalah Amerika.

Tentu saja, Wallace menunjukkan, Inggris belum mampu mengerahkan pasukan besar dalam setengah abad terakhir, dan negara ini bukan negara adidaya dunia. Dengan demikian, pejabat senior Inggris itu mengakui bahwa dua sekutu strategis di kedua sisi Atlantik sedang mengalami tren penurunan kekuatan dan posisinya di kancah global.

Penekanan Menhan Inggris pada fakta tak terbantahkan bahwa AS jatuh dari posisi sebelumnya sebagai negara adidaya dunia bukanlah hal baru, tetapi untuk pertama kalinya ia menunjukkan realitas baru mengenai sekutu strategis Washington, AS. 

Penarikan pasukan AS dari Afghanistan, yang diklaim oleh Presiden Joe Biden bertujuan untuk membebaskan AS dari konflik dalam perang tanpa akhir, dilihat dari perspektif global sebagai simbol penurunan posisi AS sebagai kekuatan yang berpengaruh di arena internasional.

Sekarang sekutu Eropa Washington, termasuk Inggris, angkat bicara. Mereka sangat menyadari bahwa mengandalkan Washington untuk dukungan politik, ekonomi dan keamanan akan menjadi kesalahan mulai sekarang, dan bahwa pemerintah AS akan bertindak semata-mata demi kepentingannya sendiri pada saat-saat kritis dan mungkin membiarkan mereka sendiri.

Kekuatan saingan AS sekarang sangat menyadari fakta ini. Dengan demikian, mulai sekarang, mengingat sikap pasif dan tindakan pemerintahan Biden terhadap Afghanistan, pasti akan mengambil sikap yang lebih keras pada posisi dan tuntutan serta kebijakan yang mengadopsi paksaan Amerika.

Dalam hal ini, Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia, Sergei Lavrov mengatakan, penarikan pasukan AS dari Afghanistan berarti akhir dari “periode aksi militer untuk perluasan demokrasi.”

Domenico Montanaro, seorang pakar politik mengatakan, Biden tidak mungkin keluar dari bayang-bayang dengan cepat.  Tentu saja, kepergian ini akan membawa biaya politik yang besar bagi Biden.

“Karena penarikan Amerika Serikat yang menyedihkan dari Afghanistan, Biden pasti akan mengalami pukulan politik yang parah, setidaknya dalam jangka pendek,” katanya.

Pengakuan Biden atas kegagalan membangun kembali Afghanistan dan berakhirnya upaya AS untuk campur tangan secara militer di negara lain menunjukkan erosi signifikan dari kekuatan nasional dan globalnya.

Dengan kata lain, berlanjutnya penurunan pengaruh AS yang pernah mengklaim negara adidaya memperlihatkan hilangnya pamor negara itu sebagai adidaya.

Setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, AS menyatakan dirinya menang dalam pertempuran dua negara adidaya dan berbicara tentang tatanan dunia baru. Namun, berbagai indikator menunjukkan kemunduran AS dalam berbagai dimensi ekonomi, politik, dan militer.

Tren ini meningkat selama masa kepresidenan mantan Presiden Donald Trump, yang menjadikan unilateralisme dan pengabaian total terhadap lembaga dan hukum internasional sebagai fokus kebijakan luar negerinya, yang menyebabkan semakin terisolasinya Amerika di arena internasional.

Kini, dengan penarikan tiba-tiba pasukan AS dari Afghanistan, dan Biden mengakui kegagalan untuk mencapai tujuannya di negara yang dilanda perang, serta desakannya untuk mengakhiri kampanye pembangunan bangsa, citra AS sebagai kekuatan dunia sepenuhnya terdistorsi. Pengakuan Menhan Inggris ini menunjukkan separuh buktinya. (pt/ln)