Akibat Tekanan Ekonomi, Warga Turki Ramai-Ramai Bunuh Diri

Akibat Tekanan Ekonomi, Warga Turki Ramai-Ramai Bunuh Diri

Senin, 1 Maret 2021 08:03 WIB

Ankara, Ntbnews.com – Masih hangat di ingatan, kabar pasangan muda di Istanbul, Turki, yang bunuh diri setelah tidak kuat menghadapi masalah keuangan serius sebagai dampak pengetatan aturan Covid-19. Kebijakan problematik ini memang telah meningkatkan ketakutan tingkat kemiskinan di Turki.

Pasangan muda itu bunuh diri pada 9 Februari. Ia meninggalkan anaknya yang berusia 1 tahun dengan tetangganya. Diyakini mereka sedang menghadapi kesulitan keuangan, dampak Covid-19 dan kebijakan anti-virus corona yang tidak sedikit membuat kecewa.

Insiden bunuh diri itu secara tak langsung menjadi simbol realitas ekonomi baru negara dan ketimpangan pertumbuhan pendapatan.

Fatalnya, di hari yang sama, suatu pengumuman anyar menimbulkan kontroversi lain. Negara Ottoman itu dikabarkan merilis program luar angkasa baru untuk mendarat di bulan pada 2023.

“Mereka yang bilang tidak ada kemiskinan dan kelaparan, harusnya kita bersedih untuk anak kecil itu, atau anak-anak muda yang tewas tiba-tiba?” ungkap Canan Kaftancioglu, kepala Partai Rakyat Republik (CHP) Istanbul.

Bunuh diri pasangan muda itu bukan fenomena tunggal. Menurut laporan terbaru dari Serikat Pekerja Pelayanan Publik, sebanyak 7 dari 10 orang Turki memiliki utang pribadi yang signifikan, dengan tingkat kemiskinan, yang lebih tinggi di antara perempuan dan satu dari dua anak yang menghadapi kehidupan dalam kemiskinan. Lebih lanjut, seperlima dari 81 juta penduduk Turki diyakini hidup di bawah garis kemiskinan.

Baca juga: Terkait Jaringan Dalang Kudeta, Pemerintah Turki Tangkap Ratusan Orang

Tak heran, jika warga Turki yang berputus asa memilih jalan pintas kematian. Ahval News mengutip sebuah laporan oleh oposisi utama Turki Partai Rakyat Republik (CHP) soal ini.

Dalam laporan tersebut diungkapkan, setidaknya 65 warga melakukan bunuh diri per minggu setelah diperkenalkannya pemerintahan presiden oleh Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP).

Surat kabar oposisi Cumhuriyet pada Sabtu lalu, mengaitkan peningkatan angka bunuh diri dengan memburuknya kondisi ekonomi setelah penerapan sistem pemerintahan Presidensial di Turki.

Laporan CHP memang mengafirmasi, angka bunuh diri telah terkerek naik sebesar 48 persen di bawah aturan AKP. Karena alasan ekonomi, angka bunuh diri meningkat 38 persen dalam kurun waktu 2017-2021.

Baca juga: Keterlibatan Asing Membuat Konflik Berdarah di Libia Tak Kunjung Usai

AKP, yang didirikan pada 2001 di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdoğan, menjadi pemerintahan setelah pemilihan umum November 2002 di Turki.

Laporan yang dirilis oleh wakil ketua CHP Gamze Akkuş İlgezdi mengungkapkan, meskipun 2.301 orang melakukan bunuh diri karena berbagai alasan pada 2002, angkanya telah meningkat menjadi 3.406 pada 2019. Antara 2017 hingga 2019, Turki beralih ke sistem pemerintahan presidensial, 9.916 kasus bunuh diri dilaporkan. (mp/ln)