Konsepsi Merdeka Belajar Dulu dan Kini dalam Pendidikan Indonesia

Konsepsi Merdeka Belajar Dulu dan Kini dalam Pendidikan Indonesia

fc5969c4-da31-4d95-a0b7-014752da59ef
Minggu, 2 Mei 2021 19:05 WIB
Nur Hasanah. (Dok. Pribadi)

OLEH: NUR HASANAH*

Hari Pendidikan Nasional merupakan momentum yang dijadikan sebagai refleksi bagi bangsa Indonesia untuk melihat kembali wajah pendidikan Indonesia yang memerlukan perhatian khusus. Pendidikan merupakan suatu usaha sadar serta terencana untuk membina manusia sepenuhnya. Sebagai satu kesatuan dalam mendidik kecerdasan, keterampilan, dan karakter. Namun nilai-nilai luhur tersebut sangat diabaikan dewasa ini di dunia pendidikan kita.

Sejarah terciptanya Hari Pendidikan Nasional adalah untuk mengenang bakti salah satu tokoh pendidikan nasional: KI. Hajar Dewantara. Juga bertepatan dengan hari lahir tokoh berdarah Jawa tersebut. Cita-cita maupun konsep pendidikan yang dicetuskan pria bernama lengkap Soewardi Surjaningrat ini sangatlah relevan sampai sekarang.

Tema dalam memperingati Hari Pendidikan Nasional tahun ini yakni bergerak bersama mewujudkan merdeka belajar. Konsep merdeka belajar bukanlah gerakan yang baru bagi pegiat pendidikan. Karena puluhan tahun sebelumnya merdeka belajar sudah digaungkan KI. Hajar Dewantara.

Kemerdekaan dalam belajar merupakan bentuk perlawanannya terhadap praktik pendidikan yang mengedepankan kekerasan. Segala upaya dilakukannya. Sehingga membentuk wadah yang kita kenal dengan Taman Siswa. Dalam taman siswa tersebut pendidikan dan pelajaran adalah sebagai upaya yang dibangun dengan sengaja. Dalam rangka memerdekakan suatu aspek lahiriah dan batiniah.

Pendidikan berpusat pada anak didik, serta anak diberi kebebasan seluas-luasnya. Sementara seorang pendidik berfungsi sebagai fasilitator yang dijadikan sebagai kompas dalam proses pengembangan potensi anak didik. Supaya terarah dan tidak membahayakan anak didik. Jadi, konsep merdeka belajar merupakan suatu gagasan utama dalam wadah tersebut. Tujuannya, untuk membentuk manusia dimulai dengan mengedepankan pengembangan bakat.

Dari merdeka belajar lahirlah Tut Wuri Handayani yang dikonotasikan sebagai usaha mendorong dan menguatkan. Proses mendorong maupun menguatkan tidak boleh diberikan secara serampangan. Namun haruslah dengan kontrol yang intensif. Supaya semangatnya menjadi manusia tetap utuh dan terjaga.

Lalu, bagaimana relevansinya dengan program kerja Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang mengangkat tema merdeka belajar? Merdeka belajar terinspirasi dari pemikiran tokoh pendidikan Indonesia KI. Hajar Dewantara. Merdeka belajar diterjemahkan oleh Kemendikbudristek sebagai memerdekakan pemikiran anak-anak dengan harapan setiap peserta didik tidak mudah dijajah pemikirannya oleh sosial media maupun orang lain.

Selain kemerdekaan tersebut untuk para peserta didik, juga dialamatkan kepada pendidik yang diberikan kebebasan untuk memilih strategi maupun metode yang serasi dengan kondisi kelas. Kemudian kebebasan diberikan kepada pihak kepala sekolah agar secara mandiri mengelola anggaran sekolah dengan baik.

Kemudian konsepnya menyasar di wilayah perguruan tinggi yang diberikan kebebasan belajar yang tidak hanya berkutat pada bangku kampus dalam mengembangkan bakat. Namun diberikan pilihan untuk belajar di industri, mengerjakan proyek wirausaha, mengabdi di desa serta melakukan penelitian.

Konsep merdeka belajar KI. Hajar Dewantara memang bertujuan mengembangkan bakat peserta didik. Sekilas sangar relevan dengan pembaruan konsep yang dilakukan Menteri Nadiem Makarim. Namun KI. Priyo berpandangan, makna merdeka diterjemahkan secara subjektif hingga arah pembelajaran tidak terarah. Ia mengatakan, merdeka belajar kurang tepat menjadi dasar pendidikan saat ini.

Di sisi lain, KI. Hadi Sukitno yang pernah menjadi orang kepercayaan KI. Hajar Dewantara memaknai merdeka adalah bebas terhadap diri sendiri, minat, serta bakat. Siswa harus merdeka mengembangkannya seluas mungkin.

Namun pendidikan di Indonesia masih merajakan angka untuk mengukur kesuksesan setiap peserta didik. Seharusnya angka tak dijadikan sebagai tolak ukur dalam mengembangkan bakat. Selain itu, masih terkungkungnya pengambil kebijakan menjadikan kurikulum sebagai alat untuk menggerogoti kebebasan peserta didik dalam mengembangkan bakat. Sebagaimana cita-cita luhur tokoh pendidikan yang mengedepankan perhatian pada pengembangan bakat anak didik.

KI. Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh pendidikan yang sangat anti dengan intelektualisme. Di mana lembaga mengedepankan intelektual. Namun kering terhadap karakter. Belajar di lembaga sekolah mengedepankan kognitif. Sehingga mengabaikan afeksi. Bahkan kadang hilang. Maka dari itu, untuk mendukung merdeka dalam belajar harus mengedepankan pendidikan karakter. Karena kunci utama membangun insan pendidikan adalah berbakat dan berkarakter.

Kita ketahui dalam sejarah bahwa KI. Hajar Dewantara tidak pernah berorientasi kelak anak didiknya di kelas akan menjadi apa. Namun ia memerdekakan anak didik untuk belajar apa pun dengan mempertimbangkan bakat mereka. Cara yang dikembangkan tokoh tersebut seharusnya menjadi kiblat bagi pendidik di kelas. Sehingga ke depan anak didik Indonesia memiliki bekal untuk berkuasa atas dirinya sendiri. (*Magister Pendidikan dari Universitas Islam Yogyakarta)