Mengurai Problem dan Solusi Penanggulangan Banjir di Bima

Mengurai Problem dan Solusi Penanggulangan Banjir di Bima

fc5969c4-da31-4d95-a0b7-014752da59ef
Jumat, 16 April 2021 09:04 WIB

OLEH: MUHAMMAD*

Belakangan ini kata banjir menjadi kata yang ramai diperbincangkan, serta menjadi momok yang sedikit meresahkan masyarakat Bima. Lalu, apa penyebabnya sehingga akhir-akhir ini wilayah Bima, baik kota maupun kabupaten, intensitas kejadian banjir semakin meningkat?

Jika dilihat dari kaca mata hidrologi dapat diketahui bahwa jumlah air hujan yang jatuh pada sebuah wilayah relatif sama setiap tahun, yang berbeda hanya pada siklus curah hujan tahunan, baik siklus curah hujan selama 5 tahun, 10 tahun dan seterusnya.

Apabila ditinjau dari proses terjadinya, banjir terjadi akibat kumpulan air hujan yang jatuh tidak dapat lagi terserap dengan baik oleh tanah dan menjadi aliran permukaan atau aliran air yang langsung mengalir ke badan-badan air. Kumpulan air yang terlalu banyak membuat badan air tidak mampu lagi menampung aliran air, sehingga meluap dari badan air dan mengalir ke pemukiman penduduk serta lahan pertanian. Inilah yang biasa kita sebut dengan banjir.

Pada proses awal terjadinya banjir, kita akan melihat benang merah bahwa tingginya tingkat aliran permukaan pada suatu wilayah penampung air hujan atau Daerah Aliran Sungai (DAS) akan meningkatkan terjadinya banjir.

Agar pembahasan kita tidak timpang, kita akan menjelaskan secara ringkas mengenai wilayah penampung air atau DAS. DAS adalah sebuah kawasan yang dibatasi oleh punggung-punggung bukit sebagai titik tertinggi yang berfungsi untuk menampung dan mengalirkan air hujan yang jatuh. Setelah kita memahami konsep DAS, kita akan mengetahui bahwa air hujan yang jatuh akan tertampung serta dialirkan pada wilayah DAS masing-masing.

Pertanyaan selajutnya, apa yang menyebabkan tingginya aliran permukaan pada wilayah suatu DAS? Terutama yang menjadi fokus kita pada wilayah Kabupaten Bima. Sebelum kita menjawab pertanyaan ini, kita akan menjabarkan sedikit penjelasan bahwa tingginya aliran permukaan pada suatu DAS sangat erat kaitannya dengan berkurangnya daya resap air atau infiltrasi yang sangat bergantung pada jenis tanah serta tutupan pada kawasan tersebut.

Setiap jenis dan tutupan tanah yang berbeda memiliki nilai aliran permukaan yang berbeda. Sekarang kita akan menarik pemahaman dan coba menghubungkannya dengan situasi yang terjadi pada wilayah DAS di Bima.

Bukan rahasia lagi bagi masyarakat di Bima bahwa pembukaan lahan yang terjadi secara besar-besaran mengakibatkan perubahan tutupan tanah dari yang sebelumnya memiliki vegetasi menjadi tanah terbuka. Hal ini sudah pasti akan mengubah besaran aliran permukaan.

Vegetasi atau kawasan hutan sangat baik untuk bisa meresap air hujan (infiltrasi). Selain berfungsi dalam membantu infiltrasi, peran penting dari vegetasi adalah membuka pori-pori tanah. Vegetasi atau kawasan hutan juga sangat baik dalam mengurangi terjadinya kontak langsung antara air hujan yang jatuh pada tanah sehingga mengurangi terjadinya proses terkikisnya permukaan tanah (erosi).

Salah satu dampak buruk dari berkurang serta hilangnya tutupan tanah adalah terjadinya proses erosi atau terkikisnya permukaan tanah akibat kontak langsung dengan air hujan. Contoh nyata dampak buruk dari tingginya aliran permukaan dan tingkat erosi pada suatu kawasan DAS di Kabupaten Bima dapat kita lihat dari berkurangnya fungsi Dam Pela Parado yang disebabkan sedimentasi yang terdapat dalam area penampungan dam.

Dam yang seharusnya berfungsi sebagai penampung air hujan dan aliran air dari anak-anak sungai tak dapat lagi menjalankan fungsinya secara optimal, karena kapasitas penampungannya yang berkurang, sehingga kejadian banjir pada wilayah Kecamatan Monta dan sekitarnya yang menjadi akar aliran air dari Dam Pela Parado tak dapat terelakkan lagi.

Wilayah lain yang terdampak bencana akibat berkurangnya daerah resapan adalah wilayah Kecamatan Bolo dan sekitarnya. Ini merupakan salah satu dampak berkurangnya kawasan hutan di Desa Campa dan sekitarnya.

Baca juga: Seorang Korban Banjir Meninggal Dunia setelah Terbawa Arus Sejauh Satu Kilometer

Peralihan fungsi kawasan pada dua contoh di atas terjadi karena perambahan area yang digunakan untuk menanam palawija. Tapi sebagai seorang akademisi, saya tidak akan menimpakan semua kesalahan pada pihak yang mengubah kawasan hutan menjadi lahan penanaman palajiwa karena tidak dapat kita mungkiri, ini terjadi akibat tuntutan ekonomi yang semakin meningkat.

Yang dapat kita lakukan sebagai akademisi adalah mencari jalan tengah antara kegiatan perambahan hutan dan bagaimana cara terbaik mengurangi tingkat aliran permukaan serta erosi. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan mengenalkan kepada masyarakat beberapa teknik konservasi tanah dan air.

Konservasi tanah dan air adalah salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi atau bahkan bisa menjadi solusi dari bencana banjir. Selama ini, yang ada di benak kita mungkin kegiatan konservasi hanya sebatas menanam pohon pada kawasan-kawasan yang telah gundul. Dengan hanya memahami kegiatan konservasi tanah dan air dari sudut pandang ini, maka kita telah mempersempit arti luas dari pembahasan tentang konservasi tanah dan air.

Konservasi tanah dan air dengan metode penanaman pohon telah dilakukan terhadap sebagian wilayah yang telah gundul di kawasan hutan Kabupaten Bima. Akan tetapi metode konservasi ini memiliki banyak kekurangan jika diterapkan tanpa ada metode lain sebagai pendukungnya.

Tingkat keberhasilan penggunaan metode ini sangat bergantung jumlah tanaman yang bisa bertahan hidup, serta selama awal masa penanaman dampak yang diberikan sangat kecil terhadap penurunan aliran permukaan dan tingkat erosi, sehingga teknik konservasi pendukung seharusnya bisa diterapkan.

Salah satu teknik konservasi yang bisa diupayakan adalah pembuatan terasering. Teknik ini mungkin tidak asing lagi bagi sebagian masyarakat Bima. Beberapa contohnya bisa kita lihat di kawasan penanaman palawija di wilayah Jati Wangi yang telah lama menggunakan teknik ini. Hanya saja penggunaannya belum dioptimalkan sebagai sarana untuk mendukung upaya menurunkan alirah permukaan dan tingkat erosi.

Selain tentang pemahaman penerapan berbagai teknik konservasi yang masih minim, masyarakat yang merambah hutan juga dihadapkan dengan tingkat kepedulian yang sangat rendah dalam mempersiapkan lahan. Sehingga saat membuka lahan, sama sekali tidak memperhatikan tingkat kemiringan lahan yang dibuka dan ditanami.

Teknik konservasi tanah dan air di berbagai daerah di wilayah Indonesia dan dunia telah banyak diterapkan serta memberikan dampak positif dalam memperbaiki keadaan lingkungan tanpa menimbulkan konflik antara pihak yang mengambil kebijakan (stakeholder) dengan masyarakat.

Selain teknik konservasi tanah dan air yang disebutkan di atas, berbagai jenis teknik konservasi juga masih dapat diupayakan untuk dioptimalkan pada wilayah Kabupaten Bima dengan memperhatikan kesesuaian teknik konservasi tanah dan air dengan keadaan lokasi serta masyarakat di sekitarnya.

Hal ini membutuhkan pemahaman menyeluruh dari berbagai pihak tentang urgensi penerapan konservasi tanah dan air untuk wilayah Kabupaten Bima, sehingga kampanye tentang konservasi harus mulai digalakkan serta perlu forum-forum diskusi untuk mencari jalan tengah keadaan ini.

Pekerjaan konservasi merupakan panggilan jiwa untuk semua pihak yang ingin hidup berdampingan dengan keramahan lingkungan di sekitarnya. Hal ini yang bisa kita wujudkan bukan hanya dengan semboyan “kita jaga alam, alam jaga kita”. Akan tetapi membutuhkan komitmen dari berbagai pihak.

Konservasi akan memberikan dampak yang maksimal apabila semua pihak menerapkan serta menjalankan secara berkesinambungan karena konservasi bukanlah kegiatan yang dilakukan secara temporal, melainkan ini adalah cara hidup. (*Lulusan Magister Sains Bidang Keahlian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Institute Pertanian Bogor)

Keterangan: Artikel ini awalnya berbentuk tulisan tangan. Kemudiam disunting oleh wartawan Ntb News, Arif Sofyandi, dan diedit oleh Ahmad Yasin.