5 Kekayaan Bahasa Bima

5 Kekayaan Bahasa Bima

banner-single
Senin, 1 Maret 2021 19:03 WIB

OLEH: ALAN MALINGI

Bahasa Bima atau Nggahi Mbojo sesungguhnya telah mengalami perjalanan panjang. Bahasa Bima saat ini dituturkan oleh masyarakat mulai dari Pulau Moyo, Tambora, Sanggar, Dompu melintasi selat Sape, Labuan Bajo, Manggarai hingga Wa’i Werang Larantuka. Proses migrasi manusia Bima dan kejayaan maritim Bima di masa silam telah memengaruhi perkembangan bahasa Bima di sejumlah wilayah tersebut.

Dalam pusaran bahasa Austronesia, bahasa Bima dikelompokkan dalam rumpun Bima-Sumba. Demikian menurut para peneliti lingusitik seperti Dr. Syamsuddin AR, Brandes Jonker (1884), Esser, Diyen dan Fernandes. Esser mengakui eksistensi kelompok Bima-Sumba dalam 17 kelompok bahasa. Syamsuddin menyebut kelompok bahasa Bima-Sumba terdiri atas tiga sub-kelompok, yaitu Bima-Komodo; bahasa Manggarai, Ngada dan Lio; dan bahasa Sumba dan Sawu. Sekitar 3500 tahun silam, orang-orang di Pulau Komodo dan sekitarnya menggunakan bahasa Bima. Pada perkembangannya bahasa Bima tidak lagi dituturkan (Muslimin Hamzah, Ensiklopedia Bima).

Zolinger membagi bahasa Bima ke dalam dua kelompok, yaitu bahasa Bima pegunungan dan daratan. AbdullahTayib membagi bahasa Bima dalam dua kelompok: bahasa Bima lama dan baru. Hal senada juga ditulis Sri Wahyuningsih dan Nurul Zuhriyah dalam penelitian dengan judul Analisis Serapan Kosakata Bahasa Arab terhadap Bahasa Bima.

Menilik bahasa yang pernah berkembang baik yang sudah punah maupun yang masih dituturkan saat ini, dapat dibagi dalam lima kelompok yang merupakan bagian dari kekayaan kebahasaan di tanah Bima. Lima kekayaan bahasa itu adalah Inge Ndai, Donggo Ipa, Kolo, Kore dan Bima Baru.

Inge Ndai

Istilah Inge Ndai pertama kali dimunculkan almarhum H. Mansyur Sambori pada saat saya melakukan penelitian buku “Sambori Negeri di Awan” tahun 2010. Inge Ndai (Bima: Angi Ndai) adalah saudara serumpun yang mewakili komunitas masyarakat di Kecamatan Lambitu dan Tarlawi (Wawo), yaitu Teta, Kuta, Sambori, Londu, Kaboro dan Kalodu, Kecamatan Langgudu. 

Beberapa penelitian menyebut kelompok ini memiliki bahasa sendiri untuk alat komunikasi di lingkungan mereka. Rahmatia Ardila dalam tesis Kajian Sosiolinguistik: Pertahanan Bahasa Inge Ndai Dalam Ranah Keluarga Pada Masyarakat Lambitu mengemukakan, di Desa Teta terdapat dua bahasa yang berbeda, yaitu Teta Awa (Teta bagian bawah) dan Teta Ese (Teta bagian atas).

Bahasa Inge Ndai terdiri dari tujuh sub-dialek yang tersebar di enam desa di Kecamatan Lambitu, yaitu Sambori dengan dialek halus; Kuta dialek intonasi sedang; Kaboro, Londu dan Kaowa dengan dialek intonasi tinggi. Desa Teta terdapat dua dialek intonasi tinggi di dua dusun, yaitu Teta Awa dan Teta Ese.

Abdullah Tayib menulis, bahasa yang berkembang di Inge Ndai dikelompokkan dalam bahasa Bima lama. Bahasa Inge Ndai masih aktif dituturkan oleh masyarakat Lambitu dan Tarlawi Wawo hingga saat ini. Kelompok ini disebut Donggo Ele (Donggo Timur). Dalam berbagai referensi sejarah Bima, mereka ditengarai sebagai penduduk asli Bima.

Di Inge Ndai, ada beberapa senandung dan mantra yang hingga saat ini masih tetap dilantunkan: senandung menanam Arugele, Belaleha, Mange Ila, Bola Mbali, Mpisi dan Kasaro. Kesenian lainnya yang masih tetap dipertahankan adalah Mp’a Lanca dan Kalero.

Donggo Ipa 

Abdullah Tayib menyebut, ada tujuh desa di Donggo Ipa sebagai penutur bahasa Bima lama: Doridungga, Kananta, Padende, Palama, O’o, Kala, dan Mbawa. Berbeda dengan di Donggo Ele, bahasa di Donggo Ipa bisa dikatakan punah, meskipun masih ada beberapa orang yang masih mengingat kosa katanya.

Dominasi bahasa Bima baru cukup besar dan diperkirakan dalam proses yang panjang. Bahasa Donggo Ipa ini tergeser dan masyarakatnya telah menggunakan bahasa Bima baru. Sebagimana Donggo Ele dalam berbagai literatur sejarah Bima merupakan penduduk asli Bima sebelum datangnya kaum pendatang dari berbagai belahan negeri.

Baca juga: Dinasti Politik di Kabupaten Bima: Dari Kahir, Ferry, IDP hingga Ferryandi (1)

Di Donggo Ipa juga memiliki senandung menanam Arugele, Mpisi, Kalero, Inambaru, Kande Ntadi Ro Ntedi dan mantra-mantra. Di Donggo Ipa juga menyimpan kekayaan cerita rakyat seperti La Hila, La Lindu, Dapidore, La Gandi, Gajah Mada, Garuda dan cerita rakyat lainnya. Di samping itu, Donggo Ipa juga memiliki atraksi kesenian Mpa’a Ncala dengan menggunakan tongkat dan saling melempar serta menangkis. Kesenian Donggo melekat dengan urusan upacara-upacara adat baik upacara menanam, upacara daur hidup maupun kematian.

Pada masanya, Ncuhi sangat berperan dalam setiap aktifitas masyarakat Donggo. Setiap memulai upacara, selalu diawali oleh informasi dari Ncuhi. Demikian pula dengan prosesi menanam dan panen.

Muslimin Hamzah menulis, masyarakat Donggo khususnya Donggo Ipa mengenal beberapa upacara seperti Raju, Upacara Bulan Purnama, selamatan pasca panen, Upacara Langi, Wacapahu dan Aropaka untuk mengusir penyakit, hingga perayaan Ulang Tahun Gajah Mada di Padende. Seiring masuknya Islam, upacara-upacara ini sudah ditinggalkan.

Kolo

Pada 27 Agustus 2017, saya dan beberapa sahabat Majelis Kabudayaan Mbojo (Makembo) dan warga melakukan observasi keberadaan bahasa Kolo. Bahasa Kolo pada masa lalu adalah bahasa yang terpisah dari bahasa Bima, namun karena akulturasi budaya Mbojo, terutama Bahasa, telah menjadikan Nggahi Kolo menjadi bahasa minor saat ini.

Kami menemukan bahwa tidak semua warga Kelurahan Kolo dapat berkomunikasi dengan bahasa Kolo. Beberapa orang saja yang bisa mengingat kembali bahasa Kolo sebagai tutur yang tersisa ini. Kami menemui Pak Jaharuddin (52), pegawai tata usaha di SMPN 10 Kota Bima, di RT 07, RW 04, Kelurahan Kolo. Pria yang juga seniman ini menceritakan tentang asal-usul Kolo, bahasa Kolo dan serba-serbi kehidupan masyarakat Kolo.

Dari penuturan Jaharuddin dan puteranya, bahasa Kolo masih tetap ada, meskipun hanya beberapa orang yang mampu menuturkannya. Penutur bahasa Kolo masih banyak ditemui di Dusun Bonto dan sekitarnya.

Kore

Kore (Sanggar) adalah sebuah kerajaan di lereng timur Gunung Tambora. Letusan Tambora telah melenyapkan dua kerajaan: Tambora dan Pekat. Kerajaan Sanggar (Kore) yang terdekat dengan Tambora mengalami dampak yang cukup besar akibat letusan ini. Banyak penduduk yang mati, baik saat letusan maupun karena sakit pasca letusan. Kondisi ekonomi kerajaan ini cukup parah kala itu. Diperparah lagi dengan merajalelanya para bajak laut sekitar tahun 1819. Hal ini membawa dampak besar bagi migrasi warga Kore ke Bima, khususnya Sila-Tambe bahkan ke Wa’i Werang-Larantuka. Di sana terdapat nama Fam Bima-Kore yang mengaku bahwa mereka berasal dari Bima-Kore.

Kesengsaraan rakyat Sanggar menghadapi serangan bajak laut digoreskan peneliti ilmu alam bernama Coffs asal Belgia. Coffs menceritakan pertemuannya dengan raja Sanggar kala itu.

“Dia bercakap-cakap dalam bahasa Melayu yang cukup bagus. Dia harus bercocok tanam sendiri dan dia sendiri yang memotong kayu bakar dan memikulnya pulang. Saya merasa kasihan selalu.” (Abdullah Tayib, Sejarah Bima Dana Mbojo, 239). 

Coffs juga menceritakan tentang kondisi raja Sanggar yang jatuh bangun menghadapi kesulitan ekonomi akibat amukan Gunung Tambora maupun serangan bajak laut itu.

Bahasa Kore berbeda dengan bahasa Bima. Saat ini hanya beberapa orang yang masih mengingat beberapa suku kata bahasa Kore. Sebagaimana bahasa Kolo, Kore pun lebih mirip bahasa-bahasa pada beberapa suku di Sulawesi. Hal ini tidak bisa dimungkiri karena eratnya hubungan semenanjung Sumbawa (Bima-Dompu-Sanggar-Tambora dan Sumbawa) dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi pada masa lalu.

Dari segi sastra, Kore kaya akan sastra lisan dalam bentuk senandung seperti Tija Lante, Ngona Sama, Rangko, Manu Taloko, Inje atau Raho Ura, Arugele Me’e Mali, Arugele, dan Inde Ndua. Dari senandung itu, ada juga yang telah mengalami akulturasi dengan sastra Bima seperti Rawa Waro, Eaule, Obimbolo dan Lopi Penge. Sedangkan istilah Arugele mirip dengan apa yang ada di Donggo Ipa maupun Donggo Ele.

Saat ini, bahasa Kore bisa dikatakan punah, meskipun masih ada para sesepuh yang masih berkomunikasi dengan bahasa Kore seperti kakak beradik Hasyim Zakariah dan Siti Fatimah Zakariah dari Desa Taloko, Kecamatan Sanggar.

Kepunahan ini disebabkan tiga hal: letusan Tambora 1815, serangan bajak laut di tahun 1819 dan pengaruh bahasa Bima ketika kerajaan Sanggar bergabung dengan kerajaan Bima pada tahun 1926.

Letusan Tambora dan serangan bajak laut telah menyebabkan penutur bahasa Kore meninggal dunia dan migrasi ke Bima hingga Larantuka. Bergabungnya kerajaan Sanggar dengan Bima pada tahun 1926 juga berdampak pada penetrasi bahasa Bima ke dalam bahasa Kore, sehingga dalam perjalanan waktu bahasa Kore pun pudar.

Bima Baru

Bahasa yang dituturkan oleh orang Bima, Dompu, sebagian di pulau Moyo Sumbawa hingga Manggarai adalah bahasa Bima Baru. Bahasa ini kemudian menjadi bahasa ibu bagi masyarakat Bima. Sedangkan masyarakat pemakai bahasa Bima lama menggunakan bahasa Bima baru ini sebagai bahasa pengantar ketika mereka berinteraksi dengan masyarakat di luar komunitasnya. Bahasa Bima baru telah mendapatkan berbagai serapan dari luar seperti Jawa, Sulawesi, Melayu, bahkan Arab.

Sri Wahyuningsih dan Nurul Zuhriyah menulis, kelompok bahasa Bima baru digunakan oleh masyarakat secara umum di Bima sebagai bahasa ibu mereka. Bahasa Bima lama hanya digunakan sebagai bahasa pengantar dalam kagiatan-kagiatan formal dan resmi semisal acara adat istiadat, lamaran dan kegiatan penting lainnya.

Baca juga: Sultan Salahuddin: Pengusir Belanda dan Jepang dari Tanah Bima

Bahasa Bima secara dominan dipengaruhi oleh bahasa Arab terdapat pada bahasa Bima lama. Bahasa Bima dalam bentuk barunya, sebagaimana lumrah digunakan sehari-sehari di tengah-tengah masyarakatnya, pengucapannya telah berubah jauh dari bahasa Bima asli peninggalan nenek moyang mereka.

Hasil penelitian Kemdikbud RI sejauh ini masih bertahan bahwa kelompok bahasa di atas adalah dialek. Hal itu berdasarkan penghitungan dialektometri. Dapat dikatakan bahwa bahasa Bima terdiri atas empat dialek: dialek Serasuba, Wawo, Kolo, dan Kore. Persentase antar-empat dialek tersebut berkisar antara 51 persen-55 persen.

Secara umum daerah tersebut berbatasan dengan daerah sebaran bahasa Bima yang lain. Sementara itu, berdasarkan penghitungan dialektometri, isolek Bima (Mbojo) merupakan sebuah bahasa dengan persentase perbedaan berkisar antara 81 persen-100 persen jika dibandingkan dengan bahasa di sekitarnya, misalnya dibandingkan dengan bahasa Sumbawa (Samawa) dan bahasa Sasak.

Kesimpulan

Pertama, menelisik dari latar belakang sejarah, maka lima kelompok bahasa di atas merupakan bahasa-bahasa yang pernah hidup dan dituturkan oleh masyarakat di bagian timur pulau Sumbawa. Pendukung bahasa Inge Ndai, Donggo Ipa dan Kolo adalah masyarakat Bima di zaman Naka, Ncuhi hingga kerajaan Bima. Sedangkan bahasa Bima baru yang dituturkan saat ini telah mendapatkan serapan dari berbagai bahasa dan budaya dunia seperti dipaparkan di atas.

Kedua, lima kelompok bahasa di atas merupakan bagian dari kekayaan bahasa Bima yang perlu mendapat perhatian untuk dilestarikan melalui penyusunan kamus, dan kegiatan-kegiatan pempertahankan bahasa baik oleh masyarakat, pemerintah daerah maupun kantor bahasa NTB. Khusus Sambori sudah ada yang menyusun kamus bahasa Sambori: Alwi Yasin. Sedangkan untuk bahasa Kolo telah disusun oleh Jaharuddin. Sementara Kore perlu dilakukan penyusunan selagi penuturnya masih hidup saat ini.

Ketiga, terlepas apakah lima kelompok di atas adalah dialek atau bahasa, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah itu adalah dialek atau bahasa. Badan Bahasa RI dan Kantor Bahasa NTB perlu melakukan penelitian dan pemetaan kembali bahasa Bima. (*)

Sumber:

  1. Abdullah Tayib, Sejarah Bima Dana Mbojo
  2. Muslimin Hamzah, Ensiklopedia Bima
  3. Peta Bahasa, Kemdikbud RI
  4. Sri Wahyuningsih dan Nurul Zuhriyah, Analisis Serapan Kosakata Bahasa Arab terhadap Bahasa Bima (Artikel)
  5. Rahmatia Ardila, Pemertahanan Bahasa Inge Ndai dalam Ranah Keluarga pada Masyarakat Lambitu (Tesis)

Informan

  1. Jaharuddin (52), RT 07, RW 04, Kelurahan Kolo, Kota Bima
  2. Hasyim Zakariah (70), Desa Taloko, Kecamatan Sanggar Kabupaten Bima
  3. Siti Fatimah Zakariah (65), Desa Taloko, Kecamatan Sanggar, Kabupaten Bima
  4. H. Mansyur, Desa Sambori, Kecamatan Lambitu, Kabupaten Bima
  5. M. Sidik (83), Dusun Oi Temba, Tarlawi, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima
  6. Mardin Ama Fuji (42), Dusun Oi Nao, Tarlawi, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima
  7. Drs. H. Yusuf Alwi, Desa Tarlawi, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima
  8. Syahbuddin Ama Hale (Sadia)
  9. M. Ali (Sadia)
  10. Drs. Usman D. Ganggang (Lewirato)