Tantangan Pendidikan Anak di Masa Pandemi

Tantangan Pendidikan Anak di Masa Pandemi

Minggu, 25 Juli 2021 09:07 WIB

Bima, ntbnews.com – Wabah corona tahun ini membawa tantangan tersendiri bagi pendidikan anak-anak di Indonesia.

Meski demikian, pendidikan harus tetap berlangsung untuk anak-anak. Bagaimanapun keadaannya, tranformasi pendidikan mesti terus berjalan.

“Karena pendidikan adalah kebutuhan dasar bagi manusia. Baik untuk perkembangan kemampuan kognitif (kecerdasan intelektual) maupun sebagai sarana menyemai nilai-nilai pendidikan moral dan budaya pada anak,” jelas dosen Institut Agama Islam Muhammadiyah Bima, Ihlas Hasan, Sabtu (24/7/2021).

Dia menyebutkan, di masa pandemi ini, penyelenggaraan pendidikan harus terus berjalan. Namun diperlukan formula penyelenggaraan pendidikan yang ramah dan aman bagi anak.

“Peran orang tua untuk mendampingi anak saat belajar menjadi sangat penting,” kata Ihlas.

Kata dia, ada banyak orang tua yang belum siap secara teknis mengenai penggunaan media, informasi dan teknologi (IT), serta keterbatasan pada aspek kompetensi dan kualifikasi akademik.

Ihlas menegaskan, pemerintah dapat membekali orang tua murid agar dapat mendampingi anaknya belajar saat di rumah.

“Pembekalan bisa berupa parenting atau pengetahuan umum yang berkaitan dengan pendidikan,” terangnya.

Alumni doktoral Universitas Negeri Jakarta ini juga menjelaskan, banyak orang tua yang kewalahan mendampingi anak-anak mereka saat belajar, karena mereka tidak memiliki kompetensi.

“Mungkin ini agak berat, tetapi harus dilakukan,” tegasnya.

Selain itu, kata dia, pada posisi ini, peran orang tua dalam mendampingi anak sangat urgen. Pandemi membuat anak lebih banyak di rumah. Hal ini mengakibatkan orang tua kesulitan mengontrolnya.

Dia melanjutkan, orang tua juga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Karena tidak semua orang tua—khususnya ibu—adalah ibu rumah tangga.

“Tapi banyak yang pegawai kantoran dan bekerja di luar rumah. Tentu kontrol terhadap anak ini sangat terbatas, dan banyak anak yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekadar main game, bahkan menjurus pada kecanduan game (gadget adictive),” beber ihlas.

Hal ini sangat berbahaya bagi perkembangan otak anak. Sehingga diperlukan koneksi dan sinergitas kurikulum antara pendidikan di sekolah dan rumah.

“Satuan pendidikan harus mendesain kegiatan pembelajaran yang membuat anak lebih banyak beraktivitas belajar di rumah. Modelnya bisa dengan blanded learning, menggunakan moda daring dan luring,” tutup Ihlas. (*)

Penulis: Arif Sofyandi