Peluang dan Tantangan Kampus Merdeka Menurut Ketua STKIP Bima

Peluang dan Tantangan Kampus Merdeka Menurut Ketua STKIP Bima

Rabu, 26 Mei 2021 14:05 WIB
Ketua STKIP Bima, Nasution. (Istimewa)

Bima Ntbnews.com – Kampus Merdeka adalah salah satu program unggulan yang didesain Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim. Tujuannya, mendorong mahasiswa menguasai berbagai ilmu yang berguna saat memasuki dunia kerja.

Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bima, Nasution mengungkapkan, program Kampus Merdeka menciptakan peluang untuk memberikan kebebasan kepada mahasiswa, dosen, dan kampus agar berperan aktif di masyarakat serta meningkatkan kompetensi mereka.

Selain itu, program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memilih mata kuliah. “Ini untuk meningkatkan kompetensi yang sudah dimiliki oleh mahasiswa,” jelasnya, Rabu (26/5/2021).

Kata dia, Kampus Merdeka digagas untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Dalam artian, mahasiswa diharapkan setelah lulus dapat memiliki kompentensi dalam mengembangkan karier di dunia kerja.

Nasution mengatakan, saat belajar di kampus, mahasiswa diberikan keleluasaan untuk memperoleh mata kuliah sesuai keilmuannya dengan masa belajar pada semester satu sampai semester lima.

Kemudian di semester enam hingga semester delapan mahasiswa diberi kebebasan untuk meningkatkan kualitasnya sesuai keilmuan maupun minatnya di luar kampus.

Karena itu, program Kampus Merdeka membuat mahasiswa memiliki kompetensi yang dapat diukur perkembangannya dalam setiap semester.

“Sebelum dia tamat, mahasiswa benar-benar menjadi lulusan yang berkompeten,” kata Nasution.

Ia menjelaskan, untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat sejumlah langkah yang perlu didesain oleh kampus. Salah satunya kurikulum yang berkualitas. Kurikulum tersebut mesti membuka celah kerja sama serta bermanfaat bagi masyarakat.

Para penggerak program studi, lanjut dia, harus membangun mitra dengan pihak luar, baik sekolah maupun dunia usaha atau industri.

“Kurikulum tidak hanya otonomi penyusunannya oleh kampus, tetapi melibatkan stakeholders untuk mendesain bahwa kurikulum yang disusun harus sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelasnya.

Nasution mengatakan, Kampus Merdeka akan menuai tantangan besar. Pasalnya, kampus diarahkan untuk membangun kerja sama dengan para praktisi dan pengusaha.

“Memang tantangannya besar karena kurikulumnya harus diubah. Kemudian SDM juga harus yang terbaik,” katanya.

Sehingga pihak kampus harus berusaha mencari para pengusaha yang mau diajak bekerja sama dalam membangun kemitraan untuk mengembangkan kompetensi mahasiswa agar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

“Artinya, transformasi kompetensi yang pernah diraih oleh para pengusaha dibawa ke kampus,” terangnya.

Kata dia, untuk menyakinkan para praktisi dan pengusaha memang tak mudah. Sebab, pihak kampus mesti mendesain kurikulum yang benar-benar dapat melibatkan para pengajar dari pengusaha.

“Jadi, harus ada pembahasan awal tentang desain kurikulumnya dan harus melibatkan para praktisi,” ujarnya.

Meski begitu, Nasution yakin Kampus Merdeka dapat memberikan kemudahan, kecepatan dan kepastian bagi mahasiswa, dosen dan kampus. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ufqil Mubin