Giat Promosikan Pangan Lokal, Salmin: Sorgum dan Jawawut Harus Dilestarikan

Giat Promosikan Pangan Lokal, Salmin: Sorgum dan Jawawut Harus Dilestarikan

Kamis, 17 Juni 2021 18:06 WIB
Muhammad Salmin (kanan) memperlihatkan sorgum dan jawawut yang menjadi bahan dasar produk yang dijualnya. (Istimewa)

Bima, ntbnews.com – Muhammad Salmin, pemuda asal Desa Ncera, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, berhasil mengolah sorgum dan jawawut menjadi berbagai olahan makanan.

Berawal dari sang istri, Sri, yang menemukan olahan sorgum dan jawawut dari Instagram. Ia kemudian tertarik mencari informasi tentang bahan pangan lokal tersebut.

“Kami baru tahu kalau itu pangan lokal. Saat itu kami coba cari dan coba tanam sendiri,” beber Salmin kepada ntbnews.com, Rabu (16/6/2021).

Sorgum dan jawawut adalah pangan lokal yang sudah lama diabaikan masyarakat Kabupaten Bima, sehingga sulit untuk ditemukan keberadaannya.

“Maka kami menemui orang-orang tua di pelosok. Kami sudah petakan kira-kira daerah mana saja yang masih menyimpannya. Kemudian kami temukan ada di Wawo, Lambitu, dan Wera,” ungkapnya.

Bermodalkan relasi yang dimilikinya, beserta kemauan dan keberanian untuk memperkenalkan pangan lokal tersebut ke khalayak, ia memperkenalkan sorgum dan jawawut dari pangung ke panggung.

“Banyak hal yang kami lakukan. Kampanye kiri kanan. Kadang kalau ada kegiatan teman, kami minta waktu bagaimana caranya pangan lokal itu dikenal dengan cara ngomong di atas pangung dan menyampaikan ke orang-orang,” katanya.

Selain mempromosikannya di berbagai acara, dia juga kerap memperkenalkan olahan tersebut dari berbagai media online, dan mengikuti sejumlah kegiatan sebagai bentuk ikhtiarnya untuk membumikan pangan lokal ini.

Tak disangka, banyak yang tertarik dengan makanan yang diolah dari sorgum dan jawawut tersebut. Ia juga sangat bangga hasil olahannya dapat dimakan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, beserta rombongannya saat berkunjung ke Kabupaten Bima baru-baru ini.

Dia menyebutkan, beras sorgum dan jawawut bisa diolah dengan berbagai macam olahan makanan yang memiliki nutrisi dan kadar gula yang rendah.

“Turunannya beras, bubur, dan nasi. Itu yang kami jual. Selain itu, kami jadikan kue lokal seperti kapore, pangaha cori, waji, kadodo, dan puding,” jelasnya.

Sebelumnya, nasi dan bubur jawawut adalah produk yang banyak diminati oleh pelanggannya yang usianya berkisar 40 tahun ke atas. Pasalnya, olahan tersebut terkesan asing di telinga anak muda.

Namun saat ini, Salmin mengatakan, konsumen yang berusia 25 tahun sampai 30 tahun ke atas pun tertarik dan ikut-ikutan mengonsumsinya karena penasaran.

Ia berharap bisa menarik minat para milenial untuk mengonsumsi olahan pangan lokal tersebut, serta menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi.

“Maunya kami, semua kalangan bisa konsumsi. Terus bisa masuk ke rumah sakit untuk orang diabetes, serta ingin menawarkannya sebagai salah satu alternatif untuk anak-anak autis karena sorgum itu sangat bagus dan rendah gula,” harapnya.

Salmin juga ingin membuat makanan dari sorgum dan jawawut yang dapat diminati para milenial. Olahannya bisa dalam bentuk es krim dan makanan lain yang disukai anak-anak.

Selain itu, produk yang berbahan dasar pangan lokal tersebut diharapkan dapat menembus pasar nasional, serta masuk di market place agar dapat dikenal luas masyarakat Indonesia.

“Untuk mimpi terbesar kami, bisa bergabung di M Blok Market. Bisa kumpul dengan produk-produk lokal di seluruh Indonesia di Jakarta,” tutupnya.

Pemuda yang karib disapa Bang Min itu berkeinginan besar melestarikan pangan lokal tersebut. Ia sangat menyayangkan bahan pangan yang begitu banyak kandungan nutrisinya itu hanya dimanfaatkan untuk makanan burung dan ikan.

Salmin ingin tak hanya orang tua yang menanam sorgum dan jawawut. Para pemuda pun perlu menanam dan melestarikan tanaman tersebut sehingga dikenal luas oleh masyarakat. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ufqil Mubin