Sepanjang 2020 Dinkes Kabupaten Bima Tangani 486 Kasus Tuberkulosis

Sepanjang 2020 Dinkes Kabupaten Bima Tangani 486 Kasus Tuberkulosis

Selasa, 30 Maret 2021 07:03 WIB
Kepala Seksi dan Wakil Supervisior Penyakit TB Dinkes Kabupaten Bima, Idris. (Arif Sofyandi/Ntb News)

Bima, Ntbnews.com – Dalam peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia (Wold TB Day) yang jatuh pada 24 Maret 2021 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bima merilis data terbaru kasus TB di daerah tersebut.

Kepala Dinkes Kabupaten Bima Ganis melalui Kepala Seksi dan Wakil Supervisior Penyakit TB, Idris menjelaskan, tahun lalu pihaknya telah menangani 486 kasus TB.

“Pada tahun 2021 targetnya 1.549. Sekarang capaian kami per Maret ini baru 25 kasus,” ungkapnya, Senin (29/3/2021).

Dia menyebutkan, data tersebut didapatkan Dinkes dari Puskesmas. Pelaporannya menggunakan Sistem Informasi Tuberculosis (SITB).

Kata Idris, terdapat beberapa Puskesmas yang melaporkan datanya kepada Dinkes. Di antaranya Puskesmas Madapangga dan Sape.

“Ada beberapa Puskesmas yang belum mengirim. Kendala biasanya disebabkan jaringan untuk mengirim ke SITB,” terangnya.

Problem penanganan TB dari dulu hingga sekarang, lanjut dia, yang ditemukan Dinkes yakni terletak pada inisiatif dan kepatuhan pasien.

“Sementara untuk menangani kasusnya juga kami sudah membentuk kelompok keluarga sebagai kader. Tujuannya untuk melaporkan dan menangani TB sejak dini,” jelasnya.

Idris menambahkan, Dinkes juga melakukan investigasi kontak erat pasien yang positif TB. Radius kontaknya mencapai 15-20 rumah. Mereka yang berada dalam radius tersebut harus diperiksa.

“Karena penyakit TB ini juga merupakan penyakit yang menahun dan kronis,” ungkapnya.

Sementara itu, masalah TB di NTB ditargetkan tuntas sampai 2035. Sedangkan secara nasional ditargetkan hingga 2050.

“Trennya untuk kasus TB sekarang kami prediksi turun karena Covid-19 ini,” kata Idris.

Pemerintah Kabupaten Bima, kata dia, telah menggratiskan pengobatan TB. Peralatannya pun sudah tersedia di Puskesmas.

Namun kendalanya, penggunaan mikroskop dalam pemeriksaan pasien TB, sebut Idris, hasilnya relatif lama. Sementara jika menggunakan Tes Cepat Molekuler (TCM), maka waktu yang dibutuhkan hanya dua jam.

“Sementara TCM di kami baru tersedia dua. Di RSUD Bima dan Puskesmas Woha. Dulu dijanjikan tiga. Tapi tidak tahu apa kendalanya,” tutup Idris. (*)

Penulis: Arif Sofyandi

Editor: Ahmad Yasin