Sebagian Lahan Gili Tangkong Tak Dijual, hanya Dikelola Investor Singapura

Sebagian Lahan Gili Tangkong Tak Dijual, hanya Dikelola Investor Singapura

banner-single
Selasa, 9 Februari 2021 12:02 WIB
Seorang warga berdiri dengan latar belakang kawasan destinasi wisata Gili Tangkong (tengah), Gili Nanggu (kiri) Gili Sudak (kanan) yang berlokasi di Kecamatan Sekotong Tengah, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin (8/2/2021). (Antara/Nur Imansyah).

Mataram, Ntbnews.com – Kepolisian Resor Lombok Barat menemukan fakta bahwa investor asal Singapura mengelola sebagian lahan Gili Tangkong di Kecamatan Sekotong berdasarkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (Pemprov NTB).

“Dari 17 hektare luas Gili Tangkong, ada 7,2 hektare merupakan aset Pemprov NTB yang dikelola oleh perusahaan asal Singapura dengan pola PKS,” kata Kasat Reskrim Polres Lombok Barat AKP Dhafid Shiddiq melalui keterangan tertulis yang diterima di Mataram, Senin (8/2/2021) malam.

Penegasan tersebut disampaikan Dhafid sebagai klarifikasi terkait informasi penjualan Gili Tangkong melalui salah satu media daring (online).

Tim Satuan Reserse Kriminal Polres Lombok Barat juga melakukan klarifikasi kepada pihak Kepala Desa Sekotong Barat, maupun pihak Kecamatan Sekotong, namun para pihak tersebut tidak mengetahui tentang informasi penjualan Gili Tangkong melalui internet.

Selanjutnya, kata Dhafid, pihaknya meminta keterangan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) NTB Samsul Rizal, terkait dugaan penjualan Gili Tangkong.

“Dari hasil klarifikasi tersebut kami mendapatkan keterangan bahwa lahan yang dimiliki oleh Pemprov NTB seluas 7,2 hektar tersebut masih dimiliki oleh pemprov dan sertifikatnya masih di kantor BPKAD NTB,” ujarnya.

Ia mengatakan, PKS pemanfaatan lahan antara Pemprov NTB dengan investor asal Singapura dimulai pada 2019 dan berakhir pada 18 Desember 2020.

Namun Pemprov NTB sudah mengadakan pengumuman pemanfaatan kembali lahan seluas 7,2 hektare tersebut dan investor asal Singapura itu akan memperpanjang pemanfaatannya.

“Namun dikarenakan Covid-19, pemilik perusahaan tersebut belum bisa hadir ke NTB,” ujar Dhafid.

Selain lahan milik Pemprov NTB, kata dia, ada juga lahan di Gili Tangkong yang dimiliki oleh perorangan atau masyarakat dan satu perusahaan swasta lainnya.

Dhafid menegaskan, pemberitaan penjualan lahan yang dimiliki Pemprov NTB seluas 7,2 hektare sudah sering terjadi di media sosial.

“Sudah dua kali diberitakan penjualan di media sosial, yakni pada 2019 akhir, dan berita tersebut bohong yang dibuat oleh pemilik akun dari Sulawesi,” ucapnya.

Ia menambahkan, dari hasil klarifikasi di pemerintahan desa, kecamatan dan BPKAD NTB, dapat disimpulkan sementara bahwa dugaan penjualan lahan milik Pemprov NTB seluas 7,2 hektare di Gili Tangkong melalui media daring yang beredar saat ini dipastikan tidak benar.

“Terkait pemberitaan itu, Unit Tindak Pidana Korupsi Sat Reskrim Polres Lombok Barat akan tetap melakukan monitoring terhadap informasi tersebut,” kata Dhafid. (ar/ln)