Pelecehan Anak Marak Terjadi di Bima, Wahidah: Perlu Pendidikan Seksual Sejak Dini

Pelecehan Anak Marak Terjadi di Bima, Wahidah: Perlu Pendidikan Seksual Sejak Dini

Selasa, 16 Maret 2021 09:03 WIB
Magister Kesehatan Reproduksi yang juga Ketua Stikes Yahya Bima, Wahidah. (Istimewa)

Bima, Ntbnews.com – Akhir-akhir ini sering terjadi perbedaan pandangan di ruang publik terkait pendidikan seksual terhadap anak di Bima.

Hal itu beriringan dengan maraknya kekerasan seksual terhadap anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar (SD) di Bima.

Setelah mengalami kekerasan seksual, anak-anak tak berani mengutarakannya kepada orang tua atau orang-orang terdekatnya.

Namun seiring masifnya kasus tersebut, orang tua korban mulai sadar tentang pentingnya pendidikan seksual. Orang-orang pun insaf betapa pentingnya pengetahuan dasar tentang seks sejak dini.

Magister Kesehatan Reproduksi yang juga Ketua Stikes Yahya Bima, Wahidah berpendapat, pendidikan seksual terhadap anak harus ditanamkan sejak dini.

“Kalau untuk pembelajaran di awal, bahkan usia 2 tahun anak-anak sudah harus mengenalnya,” kata Wahidah kepada ntbnews.com, Senin (15/3/2021).

Dia menjelaskan, pembelajaran yang harus diberikan kepada anak yakni pengetahuan dasar berupa bagian tubuh yang boleh dan tak boleh disentuh.

Termasuk perbedaan bentuk fisik serta bagian-bagian tubuh antara laki-laki dan perempuan. “Sehingga anak-anak dari awal sudah mengerti sesuatu yang harus dijaga,” jelasnya.

Terdapat fenomena di masyarakat bahwa anak-anak boleh dipegang oleh siapa saja. Karena merasa terhibur, orang-orang bisa dengan mudah memegang dan mencium mereka. Padahal, kata Wahidah, anak-anak sejatinya tak boleh dicium oleh semua orang.

Baca juga: Kota Bima Diwarnai 10 Kasus Pelecehan Seksual, Pelaku Didominasi Orang Terdekat Korban

Sejak dini, mereka mesti dibiasakan hanya mendapatkan kehangatan ciuman dari orang-orang terdekatnya. Karena itu, diperlukan batasan-batasan.

Mereka yang boleh menciumnya hanya orang-orang terdekatnya, seperti orang tua, kakek, nenek, paman, dan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan kedua orang tuanya. “Yang lain tidak boleh,” tegasnya.

Pendidikan seksual, jelas Wahidah, tak berarti mempraktikkan berhubungan seksual kepada anak. Mereka hanya perlu mengetahui identitas perempuan dan laki-laki berupa pengenalan secara umum sistem reproduksi yang bisa dipahami oleh anak-anak.

Ia menyarankan agar pendidikan seksual dijadikan kurikulum atau mata pelajaran tambahan yang memuat pelajaran penting tentang seksual.

Wahidah mengungkapkan, terdapat begitu banyak penelitian tentang kurikulum seksual. Di beberapa daerah pun sudah masuk dalam mata pelajaran di sekolah. Salah satunya di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, pelajaran tentang seksual hanya diberikan kepada para pelajar SMA. Belakangan diajarkan pula kepada peserta didik SMP.

“Alasannya karena semakin meningkat tren pernikahan dini, seks bebas dan kasus-kasus seksual pada anak,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, kasus-kasus pelecehan seksual juga merambah anak-anak usia SD. Ini pula yang menjadi dasar Wahidah menyarankan perlunya penyusunan kurikulum pendidikan seksual kepada para pelajar SD.

“Tetapi pilihan materinya harus disesuaikan dengan kualifikasi usia dan tingkat pendidikan,” katanya.

Ke depan, kata dia, materi seksualitas juga perlu diajarkan kepada anak-anak TK. Namun hanya dasar-dasarnya saja.

Hal penting dalam kurikulum itu adalah cara-cara mereka untuk meghindari jika ada perilaku-perilaku yang mengarah kepada perbuatan seks.

“Termasuk dengan cara berteriak dan sebagainya,” terang Wahidah. (*)

Penulis: Arif Sofyandi

Editor: Ahmad Yasin