Nikah di Usia Remaja Berpotensi Melahirkan Bayi Bergizi Buruk Kronis

Nikah di Usia Remaja Berpotensi Melahirkan Bayi Bergizi Buruk Kronis

fc5969c4-da31-4d95-a0b7-014752da59ef
Sabtu, 24 April 2021 08:04 WIB
Kasi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bima Tita Masithah. (Ntb Newss/Nur Hasanah)

Bima, Ntbnews.com – Nikah di usia remaja berpotensi melahirkan balita stunting atau gizi buruk kronis. Pasalnya, sang ibu yang masih remaja tengah mengalami pertumbuhan. Ia membutuhkan nutrisi untuk dirinya.

Ketika dia mengalami kehamilan, nutrisi di dalam tubuhnya terbagi dengan janin yang dikandungnya.

Kasi Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bima Tita Masithah mengungkapkan, balita mengalami stunting juga terjadi karena dua hal: pola makan dan penyakit infeksi yang diderita balita.

Dari segi makanan, hal ini bergantung kemampuan ibu memberikan makanan yang bergizi, berimbang, dan bervariasi serta sesuai usia anak.

Ia menyebutkan, stunting disebabkan penyakit infeksi terjadi karena anak mengalami diare. Penyakit ini membuat berat badan anak turun drastis. Pertumbuhannya pun terganggu.

“Kalau sering kena diare, batuk, pilek, tuberkulosis, pneumonia itu berpengaruh pada tinggi badannya. Akhirnya anak menjadi stunting,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, tahun ini persentase kasus kekurangan gizi kronis di Kabupaten Bima mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu.

Hingga 2021 kasus stunting masih 22 persen. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Masithah mengatakan, selama pandemi Covid-19 pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap ibu hamil dan balita. Hal ini mengakibatkan kasus stunting berangsur turun.

Sejak tahun lalu, pelayanan terganggu karena masyarakat tak dapat dimobilisasi. Namun tenaga kesehatan melakukan pelayanan terhadap kelompok-kelompok rentan, terutama balita stunting dan ibu hamil.

“Meskipun Posyandunya tidak jalan, para petugas mendatangi balita dan ibu hamil. Kemudian ditangani. Sehingga tidak terlalu berdampak pada persentase stunting,” ungkap Masithah, Jumat (23/4/2021).

Masithah mengatakan, pihaknya mencegah stunting lewat koordinasi dengan semua pihak yang memiliki tugas dalam penanggulangan stunting.

Beberapa langkah yang diambil antara lain pemantauan anak-anak yang kekurangan gizi lewat Posyandu, kelas gizi di Dinkes dan Puskesmas.

Kemudian anak-anak yang kekurangan gizi dikumpulkan selama 14 hari. Mereka diberikan makanan lengkap untuk mempercepat kenaikan berat badan dan meningkatkan tinggi badan, serta ibunya diedukasi dan diberikan multi-vitamin.

Masithah menyarankan para ibu hamil dan mereka yang mempunyai balita datang ke Posyandu. Dengan begitu, Dinkes dapat memantau pertumbuhan dan masalah yang dihadapi anak.

“Ibu juga harus melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat,” tutupnya. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ahmad Yasin