Nasution: Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Harus Segera Dievaluasi

Nasution: Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Harus Segera Dievaluasi

Rabu, 31 Maret 2021 07:03 WIB
Ketua STKIP Bima, Nasution. (Nur Hasanah/Ntb News)

Bima, Ntbnews.com – Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Bima Nasution menanggapi persoalan pendidikan di Bima saat pandemi Covid-19.

Dia mengungkapkan, pandemi berdampak secara langsung terhadap pendidikan di Bima—baik di kota maupun kabupaten.

Nasution pun mengaku prihatin terhadap anak-anak yang tidak cukup memiliki ruang untuk mengaktualisasikan potensi mereka karena terhambat interaksi daring.

Proses perubahan dan perbaikan tingkah laku sebagai visi utama pendidikan juga tidak sesuai harapan. Apalagi tingkat kejenuhan peserta didik relatif tinggi.

“Persoalan yang muncul di dunia pendidikan di masa pandemi ini sangat kompleks,” ungkapnya kepada ntbnews.com, Selasa (31/3/2021).

Anak-anak sejatinya memerlukan interaksi langsung dengan guru mereka, karena pembelajaran daring tidak cukup menyediakan ruang dan waktu bagi peserta didik untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

Misalnya ketidakmampuan dalam memahami materi. Di satu sisi, komunikasi dua arah memang terjadi. Tetapi waktu yang tersedia bagi anak-anak untuk bertanya dan berdiskusi sangat terbatas. “Karena guru menghadapi lebih dari satu anak dalam sehari,” katanya.

Karena itu, ia menilai, proses belajar mengajar selama pandemi ini tidak berjalan dengan baik. Hal itu terjadi dari semua tingkatan: SD hingga SMA.

“Walaupun proses belajar mengajar ini dilakukan secara daring, namun efektifitasnya tidak sesuai dengan yang ditargetkan oleh pemerintah,” jelasnya.

Hal itu merujuk pada evaluasi yang dilakukannya selama semester genap. Belajar mengajar memang terjadi. Tetapi efektifitasnya tidak memadai.

“Misalnya di tingkat SD anak-anak mengikuti proses belajar daring. Tetapi interaksi mereka ini terhambat. Belum lagi mereka terbatas komunikasinya dalam proses belajar,” katanya.

Pada saat belajar mengajar daring juga guru-guru tak menunjukkan minat yang kuat. Peserta didik pun merasakan interaksi yang berbeda dibandingkan belajar di kelas.

Sehingga peserta didik menginginkan belajar mengajar di kelas. “Antusiasme anak-anak kita di desa itu cukup tinggi. Mereka menginginkan belajar seperti biasa,” ujarnya.

Dalam proses belajar daring, lanjut dia, para pelajar juga tak memiliki biaya yang cukup untuk membeli paket internet.

Karena itu, pemerintah lewat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) harusnya tak menghentikan pembelajaran secara langsung di kelas. Tetapi diatur dengan cara shifting.

Selain itu, Nasution menyarankan dinas pendidikan di kabupaten dan kota di Bima untuk mengkaji serta mengevaluasi pembelajaran di masa pandemi.

“Karena anak tidak cukup siap dan memadai fasilitasnya untuk mengikuti pembelajaran daring,” tegasnya. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ahmad Yasin