Mahasiswa Hadapi Kesulitan Jaringan, Minim Referensi dan Biaya Membengkak selama Mengikuti Kuliah Daring

Mahasiswa Hadapi Kesulitan Jaringan, Minim Referensi dan Biaya Membengkak selama Mengikuti Kuliah Daring

banner-single
Jumat, 26 Maret 2021 07:03 WIB

Bima, Ntbnews.com – Pandemi yang melanda berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia telah melumpuhkan aktivitas di berbagai bidang—tak terkecuali sektor pendidikan di Kabupaten Bima.

Proses belajar yang dilakukan dengan cara tatap muka seketika beralih menjadi pembelajaran secara daring dan luring.

Berbagai kesulitan bermunculan. Hal ini dikeluhkan oleh para peserta didik dan orang tua. Orang tua para pelajar, khususnya mahasiswa, mengeluhkan biaya yang membengkak sejak anak-anak mereka mengikuti perkuliahan daring.

Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli paket internet. Terlebih, kuota internet di Bima yang relatif mahal dibandingkan daerah-daerah lain.

Karena itu, banyak pengeluaran setiap bulan untuk membeli kuota internet. Ditambah biaya perkuliahan yang tak dipotong pihak kampus selama pandemi Covid-19.

Hal itu sebagai akibat virus corona yang berkepanjangan. Banyak mahasiswa memilih untuk pulang kampung. Pasalnya, hampir seluruh kampus tidak membuka kegiatan belajar tatap muka.

Seorang mahasiswa di Bima, Suci mengaku menghadapi jaringan internet yang kerap kali tersendat. Jika listrik padam, jaringan pun ikut “raib”.

“Saya harus berpindah tempat yang lumayan jauh dari rumah untuk mendapatkan jaringan dan kembali bergabung di kelas,” kata dia kepada Ntbnews.com, Kamis (25/3/2021).

Selain itu, mahasiswa juga menghadapi kekurangan referensi. Padahal mereka harus menyelesaikan berbagai tugas yang diberikan dosen, yang membutuhkan beragam buku sebagai rujukan.

“Kuliah online di kampung itu yang saya rasakan tidak efektif. Yang pertama terkait buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa sangat minim sekali,” kata seorang mahasiswa lainnya, Akbar.

Ia juga merasakan hal yang sama sebagaimana yang dialami Suci. Keterbatasan jaringan internet telah menghambatnya mengikuti pembelajaran daring.

Jika pun ada jaringan, mahasiswa harus merogoh kocek lebih dalam. “Mengingat di Pulau Sumbawa, tepatnya di Bima, hanya jaringan XL dan Telkomsel, maka paket sangat mahal dan boros,” beber dia.

Lingkungan pun ikut berpengaruh terhadap proses belajar daring. Konsentrasi belajar mahasiswa sangat rendah. Apalagi mereka mendapatkan kebebasan saat bertemu dengan teman-teman mereka yang kuliah di berbagai daerah di Indonesia.

“Kemudian orang tua dan masyarakat desa menganggap kuliah daring ini sebagai alasan kita untuk tidak bekerja,” jelas mahasiswi lainnya, Nisa.

Isti, mahasiswi yang dimintai pendapatnya terkait kuliah daring, mengaku menghadapi banyak hambatan. Pasalnya, dosen acap memberikan penjelasan yang singkat, sehingga ia kerap tak memahami secara detail materi yang disampaikan dosen.

“Penyampaiannya singkat karena mungkin dibatasi oleh waktu. Jadi, teori-teori yang disampaikan oleh dosen sulit saya pahami,” ungkap Isti. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ahmad Yasin