Harga Bawang Merah Kembali Anjlok, Ketum AMBISI Desak Kementan Bertanggung Jawab

Harga Bawang Merah Kembali Anjlok, Ketum AMBISI Desak Kementan Bertanggung Jawab

Senin, 5 Juli 2021 15:07 WIB
Ketua Umum Angkatan Muda Bima Seluruh Indonesia (AMBISI), Ismail Yahya. (Dok. Ntb News)

Bima, ntbnews.com – Harga bawang merah di Bima, Nusa Tenggara Barat, kembali anjlok. Hal ini menimbulkan keresehan di kalangan petani yang tengah melakukan panen raya bawang merah.

Berdasarkan informasi yang diterima ntbnews.com, saat ini harga bawang merah di Bima berkisar Rp 12 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram. Pada Juni lalu, harga bawang merah pernah mencapai Rp 20 ribu per kilogram.

Ketua Umum Angkatan Muda Bima Seluruh Indonesia (AMBISI), Ismail Yahya, mendesak Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) bertanggung jawab atas anjloknya harga bawang merah di Bima.

Kata dia, harga bawang merah saat ini tak sebanding dengan biaya produksi. Pasalnya, para petani harus menyiapkan pestisida, insektisida, dan obat-obatan lainnya yang harganya kian melangit dari hari ke hari.

“Ditambah kelangkaan pupuk bersubsidi yang saya duga sengaja dimainkan oleh para distributor yang memiliki izin resmi demi meraup banyak keuntungan,” jelas Ismail, Senin (5/7/2021).

Ia menyebutkan, Kementan dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) sejatinya memiliki peran dan fungsi untuk memastikan harga bawang merah sesuai standar yang telah ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.

“Kenapa pemerintah tidak punya nyali untuk menerapkan aturan ini? Tugas pemerintah pusat bukan hanya memberikan bantuan bibit dan alat pertanian saja, akan tetapi pasca panen pun nasib petani harus dipikirkan,” tegasnya.

Ismail menjelaskan, salah satu penyebab merosotnya harga bawang merah adalah merebaknya bawang impor di sejumlah daerah di Indonesia. Hal ini pun tak terlepas dari kebijakan pemerintah yang membuka keran impor saat para petani di Tanah Air sedang melakukan panen raya bawang merah.

“Kenapa bawang merah impor selalu saja ada di tiap pasar tradisional sementara di Indonesia ada banyak daerah penghasil bawang merah?” sesalnya.

Dia menegaskan, pihaknya akan terus mengetuk pintu nurani para pejabat di Kementan dan Kemendag agar mengambil langkah-langkah strategis sehingga dalam jangka panjang harga bawang merah tetap stabil, bahkan terus meningkat setiap tahun.

“Kami dari AMBISI akan tetap terus hadir demi kesejahteraan kaum tani, terutama di Kabupaten Bima. Kami akan menjadi penyambung lidah untuk menyampaikan aspirasi maupun keluh kesah kaum tani,” tutupnya. (*)

Penulis: Nur Hasanah

Editor: Ufqil Mubin