Banjir di Kabupaten Bima: Jembatan Terputus, Warga Mengungsi serta Kekurangan Makanan dan Obat-obatan

Banjir di Kabupaten Bima: Jembatan Terputus, Warga Mengungsi serta Kekurangan Makanan dan Obat-obatan

banner-single
Sabtu, 3 April 2021 05:04 WIB

Bima, Ntbnews.com – Hingga dini hari tadi, banjir telah menggenangi ribuan rumah warga di Kabupaten Bima. Mereka pun mengungsi ke tempat-tempat yang lebih tinggi dan aman. Selain itu, sejumlah fasilitas umum rusak parah.

Di Desa Woro, Kecamatan Madapangga, banjir merusak jembatan. Hal ini mengakibatkan jembatan itu tak bisa dilewati kendaraan, terutama kendaraan roda empat.

“Kami sebagai masyarakat berharap agar pemerintah segera mencarikan solusi terkait perbaikan jembatan tersebut karena ini menyangkut akses masyarakat dan untuk menghindari terisolasinya warga,” ungkap seorang warga bernama Mustakim (36) kepada ntbnews.com, Sabtu (3/4/2021) dini hari.

Sementara itu, warga merasakan ketakutan karena ini merupakan kali pertama banjir besar menimpa desa tersebut.

“Banyak kerugian hasil tani, ternak dan lahan mereka yang rusak karena banjir bandang ini,” jelasnya.

“Banjir cukup besar sampai menggenangi persawahan masyarakat di samping kiri kanan sungai,” bebernya

Dia menyebutkan, banjir juga hampir masuk ke rumah warga di Dusun I. Padahal pemukiman warga itu relatif tinggi.

Ia menjelaskan, sebagian pemukiman warga di Dusun II sudah digenangi banjir.

“Banjirnya sejak zuhur datang dan mulai menggenani pemukiman,” terangnya.

Kata Mustakim, warga mengharapkan bantuan dari pemerintah berupa ganti rugi atas kerugian yang mereka alami.

Terutama untuk warga yang mengalami kerugian akibat ternak terbawa banjir serta padi mereka yang segera dipanen terbawa arus banjir.

Sementara itu, pada pukul 23.54 Wita, banjir menggenangi rumah-rumah warga di Desa Raba Kodo, Kecamatan Woha.

Menurut seorang warga bernama Halim (40), air semakin meninggi hinggi dini hari tadi.

“Banjirnya sudah mulai masuk halaman rumah dan semakin meninggi,” ungkap Halim.

Ketinggian air rata-rata mencapai satu meter. Sehingga warga khawatir dan mengevakuasi diri, keluarga dan barang-barang mereka ke tempat yang lebih tinggi.

“Kami sangat khawatir dan sekarang sudah mengevakuasi diri dengan keluarga,” sebut Halim.

“Kami berharap banjir cepat reda dan segera datang pertolongan,” harapnya.

Terpisah, seorang warga di Desa Sila Rato, Kecamatan Bolo, Randy (27) menjelaskan, banjir mengakibatkan warga merasakan diare dan gatal-gatal.

“Warga di sini banyak yang diare dan gatal-gatal,” jelas Randi.

Dia menyebutkan, masih banyak warga yang belum makan. Karena itu, mereka membutuhkan bantuan berupa makanan dan obat-obatan.

“Kami membutuhkan bantuan logistik dan pertolongan kesehatan,” beber Randi.

Ia menjelaskan, ini merupakan banjir terparah di desa tersebut. Ketinggian air mencapai atap rumah warga.

“Banjir baru pertama sebesar ini dan menggenangi semua rumah,” Ucap Randi.

Sampai sekarang belum ada informasi korban jiwa atau warga yang terbawa arus. Warga hanya mengalami kerugian material.

“Belum ada informasi korban yang meninggal. Mungkin hanya kerugian materil,” tutup Randi. (*)

Penulis: Arif Sofyandi

Editor: Ahmad Yasin